Jangan Abaikan Sinyal Tubuh, Lari Berlebihan Bisa Picu Serangan Jantung

  • 18 Juli 2025
  • 3085

Lari menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga kebugaran, menurunkan stres, hingga meningkatkan rasa percaya diri. Tak sedikit yang menjadikan olahraga ini sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bahkan menargetkan jarak tertentu sebagai pencapaian pribadi. Namun di balik manfaatnya, tersimpan risiko tersembunyi ketika seseorang terlalu memaksakan diri demi mengejar target latihan.


Dilansir dari Kompas.com, dalam siaran langsung Kementerian Kesehatan RI, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Makhyan Jibril Al Farabi, Sp.JP, mengungkapkan bahwa banyak orang kerap menyepelekan gejala ringan yang muncul saat berlari.


Gejala seperti jantung berdebar cepat meski hanya lari jarak pendek, napas yang terasa berat lebih awal dari biasanya, hingga tubuh yang lemas setelah berlari, menurutnya, bukan sekadar tanda kelelahan biasa.


Sering kali pelari menganggap nyeri dada, pusing, atau sesak napas sebagai hal normal, terutama jika belum terbiasa dengan aktivitas fisik yang intens. Padahal, gejala ringan yang muncul berulang bisa menjadi sinyal awal gangguan fungsi jantung yang berpotensi fatal. Bahkan pelari muda yang terlihat sehat tetap memiliki risiko serangan jantung mendadak jika memaksakan diri melebihi kemampuan tubuhnya.


Olahraga, seharusnya menjadi sarana untuk menjaga kesehatan, bukan justru membahayakan diri sendiri. Sayangnya, masih banyak orang yang terlalu fokus pada target jarak atau kecepatan, seperti menuntaskan 10K setiap kali latihan, hingga mengabaikan sinyal tubuh yang sebenarnya sudah memberi peringatan.


Tidak semua hal harus dipaksakan. Jika tubuh mulai menunjukkan tanda seperti berdebar kencang, napas tersengal, atau dada terasa sakit saat berlari, sebaiknya segera hentikan aktivitas dan lakukan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan kondisi jantung aman. 


Ia juga menekankan pentingnya kesadaran diri saat berolahraga. Target memang dapat memotivasi, tetapi jika dikejar tanpa memperhatikan batas kemampuan tubuh, justru dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius.


Tujuan utama berolahraga adalah menjaga tubuh agar tetap bugar dan sehat, bukan sekadar mengejar angka di aplikasi lari. Pada akhirnya, mendengarkan sinyal tubuh dan berolahraga sesuai kemampuan jauh lebih bermanfaat daripada memaksakan diri demi pencapaian yang justru berpotensi membahayakan kesehatan. (Gisela)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\