Banyak yang mengira menjadi Ibu Rumah Tangga berarti 'berhenti bekerja'. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Tahukah Anda? Jika seluruh tugas Ibu di rumah dikonversi menjadi gaji profesional, nilainya mencapai Rp2,8 Miliar per tahun. Ini bukan sekadar angka, tapi bukti betapa besarnya nilai dedikasi yang sering kali tidak terlihat oleh mata.

Di balik rumah yang rapi dan meja makan yang selalu tersedia, ada seorang manajer logistik yang andal, koki yang teliti, hingga CFO yang mahir mengatur arus kas keluarga. Ibu adalah 'multitasker' sejati yang membuat ribuan keputusan setiap hari demi memastikan roda kehidupan keluarga tetap berputar tanpa hambatan.

Ibu tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga kecerdasan emosional yang tinggi. Ia adalah psikolog pertama bagi anak, juru damai saat terjadi konflik, dan tenaga medis pertama di rumah. Sains membuktikan bahwa otak seorang Ibu beradaptasi secara luar biasa untuk memiliki empati dan ketahanan stres yang jauh di atas rata-rata.

Bayangkan sebuah pekerjaan tanpa hari libur, tanpa cuti sakit, dan harus siap sedia 24 jam sehari. Itulah realita Ibu. Dengan rata-rata waktu 'me-time' yang hanya 1 jam sehari, Ibu memberikan hampir seluruh hidupnya sebagai investasi bagi masa depan generasi bangsa. Pengabdian ini melampaui standar jam kerja profesional mana pun.

Gaji mungkin tidak akan pernah cukup untuk membayar kasih sayang seorang Ibu. Namun, pengakuan dan apresiasi kita adalah bahan bakar bagi semangatnya. Seperti kata Najwa Shihab, 'Ibu adalah sekolah pertama bagi bangsa.' Mari kita hargai 'Resume Tak Terlihat' ini tidak hanya hari ini, tapi setiap hari. Terima kasih, Ibu. (Ivan