Kenapa Tubuh Kita Gampang Tumbang

  • 28 Januari 2026
  • 1922

Perubahan cuaca ekstrem yang berlangsung cepat dinilai berdampak langsung pada daya tahan tubuh. Peralihan suhu dari panas ke dingin dalam waktu singkat memaksa sistem tubuh beradaptasi berulang kali, sehingga meningkatkan risiko keluhan kesehatan ringan hingga infeksi saluran pernapasan.


Adaptasi suhu yang terus-menerus membuat kerja jantung dan pembuluh darah meningkat. Saat cuaca panas, pembuluh darah melebar untuk melepas panas, sementara saat dingin kembali menyempit guna menjaga suhu tubuh. Proses ini menguras energi dan kerap memicu gejala seperti pusing, pegal, tenggorokan tidak nyaman, serta rasa lemas.


Kondisi udara dingin dan kering juga memengaruhi sistem pertahanan saluran napas. Suhu rendah memperlambat gerak silia di hidung yang berfungsi menyaring debu, bakteri, dan virus. Ketika fungsi ini melemah, virus flu lebih mudah masuk dan berkembang, terutama pada tubuh yang kelelahan atau kurang istirahat.


Keluhan yang di masyarakat sering disebut “masuk angin” sejatinya bukan diagnosis medis, melainkan kumpulan gejala akibat gangguan adaptasi tubuh. Gejala tersebut meliputi perut kembung, nyeri otot, meriang, dan penurunan stamina yang kerap muncul saat cuaca tidak menentu.


Pakar kesehatan menyarankan langkah pencegahan sederhana namun konsisten, seperti menggunakan pakaian berlapis, menjaga asupan cairan terutama minuman hangat, serta memastikan waktu tidur cukup. Menjaga kebugaran di tengah cuaca ekstrem dinilai penting agar aktivitas harian tetap berjalan optimal tanpa gangguan kesehatan. (Ivan)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\