Ketika AI Mengambil Peran, Manusia Tetap Jadi Pengarah Utama

  • 12 November 2025
  • 77

Perkembangan Artificial Intelligence, kini mengubah arah dunia pendidikan dan dunia kerja. Dosen Administrasi Publik Untag Surabaya, Kusnan, S.AP., M.KP., dalam Seminar Nasional Himanata Creation 2025: SYNARA Vol. 2 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMANATA), menyoroti bagaimana kemajuan AI menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan etis bagi manusia.


Melalui paparannya berjudul “Kecerdasan Buatan dan Pendidikan,” Kusnan menjelaskan bahwa AI telah menjadi kekuatan baru yang memengaruhi hampir semua aspek kehidupan, mulai dari sistem pembelajaran, cara bekerja, hingga proses pengambilan keputusan di berbagai bidang. AI tidak lagi sebatas alat bantu teknologi, tetapi telah berkembang menjadi sistem yang mampu memahami situasi, merencanakan tindakan, serta belajar dari pengalaman.


“AI mampu meningkatkan efisiensi dan membantu manusia mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat. Namun, peran manusia tetap penting sebagai pengarah dan pengendali teknologi tersebut,” ungkapnya (8/11)


Kusnan mengutip riset National University dan Datarails yang memprediksi sekitar 30 persen jenis pekerjaan dapat tergantikan AI pada tahun 2030. Profesi seperti kasir, teller bank, staf administrasi, pekerja logistik, hingga operator call center menjadi yang paling berisiko mengalami otomatisasi.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa kehadiran AI juga membuka peluang lahirnya bidang pekerjaan baru di sektor kesehatan dan precision medicine, keamanan siber, pengembangan teknologi iklim (climate tech), energi hijau, dan teknologi pendidikan.


“Alih-alih takut terhadap AI, kita perlu memahami bagaimana menggunakannya secara strategis untuk menciptakan lapangan kerja baru,” kata Kusnan.


Menurutnya, dunia kerja masa depan membutuhkan Creative Generalist, individu yang kreatif, analitis, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi baru. Perguruan tinggi, termasuk Untag Surabaya, memiliki tanggung jawab menyiapkan mahasiswa dengan kompetensi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman etika dalam penggunaan teknologi.


AI kini juga menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Teknologi ini dapat meningkatkan strategi pembelajaran, membantu mahasiswa mencari referensi akademik, menyusun presentasi, hingga memahami materi kompleks dengan lebih cepat.


Hadirnya berbagai alat seperti ChatGPT, Gemini, DALL-E, dan Sora AI membuat mahasiswa kini dapat mengakses sumber informasi tanpa batas. Namun, Kusnan mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa kontrol dapat berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir dan keaslian karya.


“Jika tidak digunakan secara bijak, AI bisa menurunkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Plagiarisme, ketergantungan, serta bias data menjadi ancaman nyata dalam dunia akademik,” ujarnya.


Ia juga menyoroti persoalan etika dan kesenjangan akses teknologi, terutama di kalangan mahasiswa dari daerah dengan fasilitas terbatas. Menurutnya, penting bagi perguruan tinggi untuk memastikan kesetaraan digital dan menanamkan kesadaran etis dalam penggunaan AI.


Kusnan mengacu pada panduan etika AI dari UNESCO dan Kemendikbudristek yang menekankan empat prinsip utama, integritas akademik, keamanan data, kesetaraan, dan dampak lingkungan.


Kehadiran AI di perguruan tinggi, lanjutnya, memunculkan tantangan baru seperti plagiarisme digital, ketidakjelasan kepemilikan karya, dan bias algoritma. Karena itu, Kusnan menegaskan perlunya membangun budaya akademik yang berlandaskan tanggung jawab dan transparansi.


“Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus membekali mahasiswa dengan pemahaman etis agar mereka bisa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” tegasnya


Kusnan menutup dengan penekanan bahwa AI bukan pengganti manusia, melainkan mitra kerja yang memperkuat kemampuan manusia. Teknologi dapat membantu menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan cepat, tetapi kreativitas, empati, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak tergantikan.


“Teknologi dapat melakukan banyak hal secara otomatis, tetapi tetap manusia yang memegang kendali. Tugas kita bukan melawan teknologi, melainkan memanfaatkannya untuk kebaikan,” tutupnya. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\