Ketua YPTA Surabaya: Natal Harus Dimaknai sebagai Landasan Kasih dan Toleransi

  • 07 Januari 2026
  • 2751

Memasuki awal tahun yang baru, perayaan Natal di lingkungan Untag Surabaya menjadi ruang refleksi tentang makna kasih dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah momen pergantian tahun tersebut, Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., mengingatkan bahwa Natal bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan spiritual untuk mengamalkan hukum kasih secara nyata.


Penegasan tersebut disampaikannya dalam Perayaan Natal Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Kristen dan Katolik (UK3) Untag Surabaya. Dalam kesempatan itu, J. Subekti menyampaikan ucapan selamat Natal kepada mahasiswa serta tamu undangan yang hadir. Ia juga mengapresiasi pelaksanaan perayaan Natal di lingkungan kampus yang dinilainya tetap menjaga kesakralan makna hari raya keagamaan.


Menurutnya, Natal memiliki nilai religius yang tidak dapat disamakan dengan perayaan tahun baru. Ia mengingatkan bahwa penggunaan istilah “Nataru” berpotensi mengaburkan esensi Natal, khususnya bagi umat Kristiani.


“Natal adalah peristiwa iman yang sakral. Tidak ada keterkaitan langsung antara Natal dan tahun baru,” tegasnya (5/1/26)


Ia juga menjelaskan bahwa bagi umat Katolik, peringatan 1 Januari merupakan penghormatan kepada Bunda Maria, bukan perayaan pergantian tahun.


Lebih lanjut, J. Subekti menekankan pentingnya nilai kasih sebagai inti ajaran Kristiani. Mengacu pada Injil Matius 22 ayat 37–40, ia menjelaskan bahwa kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama merupakan hukum utama yang harus diwujudkan secara seimbang dalam kehidupan.


Nilai kasih tersebut, menurutnya, bersifat universal dan relevan bagi seluruh umat beragama. Pengalamannya terlibat dalam komunitas lintas agama di Jawa Timur menjadi bukti bahwa kehidupan religius yang harmonis dapat terwujud ketika hukum kasih dijadikan dasar dalam interaksi sosial.


“Toleransi, solidaritas, dan persaudaraan antarumat beragama tumbuh dari sikap saling mengasihi dan menghargai perbedaan,” imbuhnya


Dalam konteks kehidupan kampus, J. Subekti mengajak mahasiswa Untag Surabaya untuk mengimplementasikan hukum kasih dalam setiap peran yang dijalani, baik sebagai insan akademik maupun sebagai bagian dari masyarakat. Ia menekankan bahwa nilai kasih harus tercermin dalam cara berpikir, bersikap, serta membangun relasi dengan sesama.


Sebagai Ketua Pengurus YPTA Surabaya, J. Subekti juga membagikan refleksi atas perjalanan kepemimpinannya selama 15 tahun di Untag Surabaya. Ia menyebut bahwa pendekatan kepemimpinan berbasis humanisme dan pelayanan telah memberikan dampak nyata bagi perkembangan kampus, mulai dari peningkatan kualitas fasilitas, terciptanya lingkungan kampus yang asri, hingga capaian akreditasi unggul.


“Kita berkembang bersama dan berusaha menjalankan kepemimpinan yang berlandaskan kasih dan kemanusiaan,” tutupnya


J. Subekti mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadi pribadi yang membawa terang bagi lingkungan sekitarnya. Ia mengibaratkan mahasiswa sebagai lilin-lilin kecil yang mampu menghadirkan harapan dan kebaikan di tengah berbagai tantangan. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\