Latihan Sejak Usia 11 Tahun, Alya Mantap di Pencak Silat Seni Tunggal Senjata

  • 10 Desember 2025
  • VaniaS
  • 996

Sejak kecil, gelanggang adalah ruang yang akrab bagi Salwa Alya Achmad. Dari tempat itulah mahasiswa asal Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menapaki perjalanan panjang hingga berhasil membawa pulang medali perak atau Juara 2 cabang olahraga Pencak Silat kategori Seni Tunggal Senjata pada Jakarta Arisaka Championship 2025.


Alya, sapaan akrabnya, saat ini tengah menempuh semester 3 Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya. Kejuaraan yang berlangsung di GOR Jakarta Utara pada 13–15 November 2025 itu mempertemukannya dengan para pesilat dari berbagai daerah.


Seni tunggal senjata bukan hal baru bagi Alya. Sejak usia sebelas tahun, ia sudah menguasai kategori ini. Kini di usia 21 tahun, ia tampil di tingkat dewasa. Dalam kategori ini, peserta harus menguasai tiga bentuk gerakan dengan karakter dan tingkat kesulitan berbeda yaitu tangan kosong, golok, dan toya. Setiap bentuk menuntut ketepatan teknik, kontrol tenaga, serta konsistensi ritme, sehingga atlet perlu memahami tidak hanya urutan jurus, tetapi juga makna dan kekuatan dari setiap rangkaian gerak.


Sebelum memasuki intensitas latihan fisik, Alya lebih dulu memantapkan jurus sesuai kategori lomba. Ia memastikan seluruh rangkaian sesuai aturan dan ketentuan pertandingan.


“Satu minggu dua kali latihan pada hari Selasa dan Jum’at. Disambung hari Sabtu dan Minggu lari 5 km,” katanya


Meski jadwal latihannya teratur, beberapa kali ia menghadapi tantangan ketika waktu latihan berbenturan dengan agenda kampus. Namun, Alya tetap melangkah, didorong oleh dukungan keluarga, dirinya sendiri, para senior, serta pelatih yang mendampinginya sepanjang proses persiapan.


Ia tak menutupi bahwa perjalanan menjelang lomba kali ini tidak mudah. Kondisi fisik yang sempat menurun membuatnya beberapa kali terpikir untuk mundur.


“Pernah saat itu saya sedang sakit. Jadi sempat berpikiran membatalkan pertandingan. Tetapi muncul pikiran sudah latihan sudah sejauh ini, jadi akhirnya maju saja. Istilahnya sudah tercebur sekalian basah,” tegasnya


Dalam kategori seni tunggal senjata, Alya menyebut bahwa pernapasan dan ketepatan waktu merupakan kunci.


“Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih, karena semuanya itu terdapat hitungan poin,” jelas Alya


Mahasiswa angkatan 2024 itu juga mengungkap bahwa lawan paling berat dalam pertandingan bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.“Kadang kalau sudah di tengah gelanggang itu muncul perasaan was-was dan deg-degan. Apalagi saat melihat peserta lain yang baru selesai tampil dengan penampilannya yang lumayan bagus,” ungkapnya.


Suasana kejuaraan di Jakarta membawa kembali ingatannya pada pengalaman pertamanya bertanding di ibu kota.


 “Flashback pertama kali saya menginjakkan kaki ke Jakarta saat kelas 6 SD, membawa nama Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan berhasil masuk 5 besar di antara banyak provinsi,” tuturnya.


Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Alya memaknai prestasi ini sebagai tanggung jawab untuk memberi contoh bagi adik-adiknya bahwa prestasi tidak hanya diraih dari aspek akademik, tetapi juga dari kegiatan non-akademik.


Dukungan dari kampus turut menjadi penyemangat besar. Ini bukan kali pertama ia mendapat dukungan dari Untag Surabaya. Sebelumnya, ia juga didukung penuh saat mengikuti Pasuruan Martial Art Championship 2, Piala Bupati Pasuruan.


“Dukungan full dari Untag Surabaya. Untuk kedua kalinya pertandingan ditreat sama dengan Untag Surabaya. Dukungan penuh juga dari teman dan keluarga yang sangat mendukung, karena mereka tahu kemampuanku dari awal di silat,” jelasnya


Kini, setelah dua kali meraih Juara 2, Alya menargetkan pencapaian lebih tinggi.


“Saya dua kali meraih juara 2 untuk mewakili kampus dan UKM Sawunggaling. Harapannya saya mendapatkan medali emas untuk Untag Surabaya dan UKM Sawunggaling,” tegasnya


Menutup kisahnya, Alya menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain yang ingin berprestasi.


“Jangan takut untuk berkarya dalam hal apa pun. Selalu tanamkan prinsip ‘kalau orang lain bisa aku harus lebih bisa’, dan selalu ingat bahwa nikmat indah itu semuanya hanya milik Allah,” tutupnya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\