Untag Surabaya kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Kejuaraan Olahraga Tradisional Tingkat Provinsi Jawa Timur (Kejurprov) 2025, tim Untag sukses meraih dua medali emas. Kejuaraan ini digagas oleh Persatuan Pelestari Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) Jawa Timur, bekerja sama dengan Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya sebagai tuan rumah.
Tim Untag Surabaya terdiri dari delapan mahasiswa, Aisyah Citra Safa Maura, Anjani Kirania Putri, Heni Gina Asanova Azhar, Nadia Victoria Daineko Sandi, Maulidya Ainal Izza, Wulan Itawari, Sarah Salsabila, dan Novarenza Ramadhita Putr, berhasil menyabet emas di dua cabang yaitu Hadang Putri dan Terompah Panjang Putri.
Kejurprov yang berlangsung pada 22-25 Mei 2025 di Lapangan UNIPA Surabaya, mengusung tema “Serentak Bergerak dalam Olahraga, Dalam Menjalin Ukhuwah”. Ajang ini mempertemukan peserta dari berbagai universitas maupun non-universtias se-Jawa Timur dalam kompetisi permainan tradisional yang meliputi Hadang, Terompah Panjang, dan Sumpitan.
Permainan Hadang, atau yang lebih dikenal dengan Gobak Sodor, adalah permainan tim yang dilakukan di lapangan berpetak 2x3. Dua tim bergantian menjadi penyerang dan penjaga. Tim penjaga berdiri di garis dan berusaha menyentuh penyerang agar gagal lolos. Sementara itu, tim penyerang harus menghindari sentuhan dan menyebrangi lapangan untuk mendapatkan poin.
Sementara itu, Terompah Panjang adalah permainan yang menuntut kerja sama dan keseimbangan. Setiap tim mengenakan sepatu kayu panjang yang saling terhubung, lalu berjalan serempak menuju garis finish secepat mungkin.
Berangkat dari komitmen untuk melestarikan budaya lokal, Novarenza dan rekan-rekannya melihat Kejurprov sebagai kesempatan emas untuk mengangkat permainan tradisional ke tingkat yang lebih serius dan kompetitif. Meski hanya sekadar permainan masa kecil, proses latihannya tidak bisa dianggap remeh. Diperlukan strategi yang matang dan kekompakan tim.
“Kita ada sesi latihan tiap beberapa kali dalam seminggu bersama coach yang mengajarkan beberapa strategi. Seperti di permainan hadang, kalau bisa jangan satu petak diisi dua orang nanti takunya bakal ke kunci lawan, dan lain sebagainya. Kita sering friendly match sama teman-teman juga buat memperkuat chemistry,” ujar novarenza saat wawancara (11/7)
Menurut mahasiswa semester enam itu, tantangan terbesar justru muncul saat pertandingan berlangsung, terutama di cabang Hadang.
“Di permainan hadang itu fast pace. Permainannya tempo cepat butuh fokus juga, karena salah langkah saja akan berakibat fatal, apalagi lapangannya juga kecil jadi gerakan semakin terbatas. Selain itu juga aturannya juga mewajibkan kita untuk hati-hati saat bermain agar tidak kasar dan tidak terkena penalti walaupun tidak sengaja,” jelasnya
Permainan yang dulu sering dimainkan saat 17-an atau waktu senggang bersama teman masa kecil, ternyata bisa menjadi olahraga yang menyenangkan, bermakna, dan penuh nostalgia jika dibawa ke ranah yang lebih kompetitif.
Ke depan, Novarenza dan tim menargetkan kemenangan di ajang berikutnya, yakni Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (FORNAS) IX di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mereka akan terus berlatih, mematangkan strategi, memperkuat chemistry, dan menjaga semangat untuk mengharumkan nama Untag Surabaya di tingkat nasional.
Kecintaan Novarenza terhadap permainan tradisional sudah tumbuh sejak kecil. Ia mulai menekuni olahraga ini sejak kelas 3 SD dan terus konsisten hingga kini. Dari kegemarannya itu, ia bahkan berhasil masuk Untag melalui jalur prestasi.
“Saya ikut olahraga tradisional dari kelas 3 SD, karena asik dan ada teman-teman juga yang mendukung dan bisa diajak kerja sama. Saya masuk Untag lewat jalur prestasi, dapat potongan 75% di gelombang 3,” ujarnya dengan bangga
Prestasi ini menjadi bukti bahwa Untag Surabaya mendukung penuh upaya pelestarian budaya lokal, termasuk dengan mendorong generasi muda untuk mengembangkan potensi di bidang tersebut. Harapannya, semakin banyak anak muda yang termotivasi untuk menjaga dan melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa.
Novarenza pun menyampaikan harapan besarnya agar budaya lokal Indonesia bisa terus dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
“Secara tidak langsung ini adalah warisan dan peninggalan budaya lokal Indonesia. Maka dari itu jika tidak dilestarikan dan dibiarkan begitu saja, bisa diambil negara lain. Kalau bukan kita yang mempertahankan budaya ini, lalu siapa lagi,” tutupnya. (Aldi)