Di era ketika sebuah brand bukan hanya dinilai dari produknya, tetapi dari cerita yang dibangun di baliknya, kemampuan merangkai kata menjadi keterampilan yang semakin penting. Kesadaran inilah yang mendorong Himpunan Mahasiswa Administrasi Bisnis (MABISTA) untuk mendalami dunia copywriting dan branding berkelanjutan melalui kegiatan Sharing Business MABISTA Day 2025 bertema “Copywriting for Sustainable Brands: Crafting Words That Last!”.
Ruang R. Soeparman Hadipranoto, Lantai 9 Gedung Graha Wiyata, pada Rabu (12/11/25) dipenuhi mahasiswa dari berbagai angkatan yang ingin memahami bagaimana sebuah narasi mampu menguatkan nilai sebuah brand. Kegiatan tahunan yang digagas MABISTA ini menjadi wadah untuk memperluas wawasan bisnis modern sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam membangun identitas merek.
Ketua Program Studi Administrasi Bisnis, Dra. Ni Made Ida Pratiwi, M.M., membuka acara dengan penekanan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan kompetensi di bidang kewirausahaan, salah satu peminatan utama dalam program studi.
“Kegiatan seperti ini penting untuk menumbuhkan motivasi dan wawasan baru. Dengarkan dengan baik pengalaman narasumber, karena dari sinilah lahir calon-calon pebisnis muda yang tangguh,” ucapnya (12/11).
Ketua pelaksana, Muhammad Ulul Azmi Al Ghozali turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung acara.
“Saya berharap teman-teman tidak hanya hadir sebagai peserta, tapi aktif berinteraksi dan menjadikan momen ini sebagai bekal masa depan,” ujarnya penuh semangat.
Sambutan dilanjutkan oleh Irine Putri Ivana, Bupati HIMANITA 2025, yang menegaskan pentingnya kekuatan kata dalam membangun brand yang bermakna.
“Merangkai kata bukan hanya untuk menjual produk, tapi menciptakan pesan yang berdampak dan berkelanjutan,” tuturnya.
Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan cenderamata kepada narasumber, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara kerja sama.
Strategi Bisnis dan Copywriting yang Berdampak
Sesi pertama menghadirkan Teofilus Hartono, S.T., Owner brand kuliner Mr. Suprek, yang membagikan perjalanan membangun bisnis dari nol hingga berkembang menjadi 16 outlet di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Ia mengurai empat pilar keberhasilan bisnis berkelanjutan antara lain menentukan pasar (define market), menciptakan Unique Selling Proposition, membangun sistem yang efisien, dan melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Teofilus juga menjelaskan pentingnya copywriting sebagai bagian dari strategi pemasaran. Kata-kata yang tepat tidak hanya menjual, tetapi juga memperkuat citra dan nilai perusahaan. Ia mencontohkan bagaimana Mr. Suprek mengusung visi “memberikan kebahagiaan melalui cita rasa nusantara dan pelayanan terbaik”, yang diterjemahkan dalam budaya kerja berbasis nilai CEPAT (Communication, Ethics, Passion, Agile, Trust).
“Kata-kata yang kuat memang penting, tapi sistem yang kokoh dan nilai yang konsisten adalah fondasi utama sebuah brand,” ujarnya.
Mengasah Kemampuan Copywriting di Era Digital
Sesi berikutnya diisi oleh Dharma Surya Pradana, S.Kom., M.Eng., product designer sekaligus copywriter. Ia mengajak peserta memahami bagaimana sebuah teks persuasif mampu membangun emosi, membentuk persepsi, dan menggerakkan audiens.
Dharma memperkenalkan konsep “Hell and Heaven Island”, teknik naratif untuk membawa audiens dari situasi masalah menuju gambaran solusi ideal. Ia juga mengajarkan metode AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) dan PAS (Problem, Agitate, Solve) sebagai kerangka menulis naskah promosi yang efektif.
“Copywriting bukan sekadar merangkai kata, tapi tentang memahami audiens dan memberi mereka alasan untuk peduli,” jelasnya.
Workshop singkat kemudian digelar, memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk langsung mempraktikkan teknik yang dipelajari. Karya peserta dipresentasikan di depan narasumber, dan beberapa yang terbaik mendapatkan hadiah apresiasi.
Melalui rangkaian materi, praktik, dan diskusi, Sharing Business MABISTA Day 2025 menjadi pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri digital. Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengasah keterampilan strategis untuk membangun brand bermakna, menegaskan kesiapan mereka sebagai generasi kreatif, adaptif, dan berdaya saing tinggi yang siap berkontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia industri. (Boby)