Tim mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya meraih Bronze Medal dalam Mandalika Essay Competition (MEC) VIII yang berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 16–18 Mei 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui gagasan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat lokal yang dituangkan dalam esai berjudul “Manggarai Maritim Culture Hub sebagai Model Pariwisata Ekonomi Biru Berbasis Budaya untuk Menekan Kemiskinan dan Kebocoran Ekonomi di Labuan Bajo”.
Tim tersebut diketuai Yuniar Dwi Putri dengan anggota Ramadhan Eka Prayoga, Devita Permatasari, Linda Anas Tasya Oktaviani, dan Alvin Syawaludin Mulyono. Pada babak final kategori Pariwisata dan Kebudayaan, Yuniar dan Ramadhan mewakili tim untuk mempresentasikan karya di hadapan dewan juri.
Mandalika Essay Competition VIII merupakan kompetisi esai tingkat nasional yang diselenggarakan Lembaga Setara Prisma Nusantara atau Nusantara Muda bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram. Kompetisi ini diikuti finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Melalui karya tersebut, tim Untag Surabaya menawarkan konsep pengembangan pariwisata ekonomi biru berbasis budaya di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Konsep ini menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, mulai dari pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, hingga pelestari seni dan budaya daerah.
Menurut Yuniar, gagasan itu berangkat dari keinginan tim untuk menghadirkan model pariwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Harapannya, masyarakat setempat tidak perlu mencari pekerjaan ke luar daerah karena potensi wisata yang dimiliki desa dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya, Sabtu (5/7/2026).
Di balik capaian tersebut, tim menjalani proses penyusunan esai selama sekitar tiga bulan. Mereka melakukan studi literatur, berkomunikasi dengan masyarakat dan instansi terkait di Kabupaten Manggarai, serta menyusun naskah bersama hingga siap dipresentasikan pada kompetisi.
Tim juga mendapat pendampingan dari dosen pembimbing, Yuriadi, S.Psi., M.A., yang memberikan berbagai masukan dan penyempurnaan terhadap isi esai sebelum dikompetisikan.
Meski demikian, proses menuju final tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala terbesar ialah keterbatasan observasi langsung ke lokasi penelitian di Kabupaten Manggarai. Akibatnya, pengumpulan data dilakukan melalui komunikasi jarak jauh dengan masyarakat setempat dan penelusuran berbagai referensi ilmiah.
Selain itu, tim juga menghadapi kendala bahasa karena beberapa narasumber belum sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Kondisi tersebut membuat proses penggalian informasi membutuhkan pendekatan yang lebih sabar dan cermat.
Tantangan lain muncul ketika tim harus menentukan dua orang yang berangkat ke babak final di Lombok. Dari lima anggota yang terlibat sejak awal, hanya dua peserta yang dapat mewakili tim untuk presentasi.
“Kami berdiskusi selama berjam-jam, bahkan beberapa hari. Semua anggota tentu ingin berangkat karena semuanya terlibat sejak awal. Namun, akhirnya kami mengesampingkan keinginan pribadi dan lebih mengutamakan potensi masing-masing anggota tim. Kami memilih dua orang yang paling siap mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri,” ungkap Yuniar.
Di luar kompetisi, Yuniar juga memperoleh pengalaman berkesan selama mengikuti rangkaian kegiatan di Lombok. Salah satunya saat mengikuti field trip menuju Gili Trawangan menggunakan kapal nelayan bersama peserta dari berbagai daerah.
Di tengah perjalanan, kapal sempat terombang-ambing akibat ombak besar hingga penumpang dan barang bawaan mereka basah terkena air laut. Meski sempat panik, para peserta tetap saling menguatkan dan berdoa hingga tiba di tujuan dengan selamat.
“Bagi kami, pengalaman itu sangat berkesan karena dalam satu kapal terdapat peserta dari berbagai daerah dan latar belakang agama yang berbeda. Semua bersatu dan saling mendoakan demi keselamatan bersama. Momen itu menjadi pelajaran berharga tentang kebersamaan dan toleransi,” pungkasnya.
Ke depan, tim berkomitmen untuk terus mengembangkan gagasan inovatif melalui kompetisi ilmiah. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, ketekunan riset, dan keberanian menyampaikan ide dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk berkontribusi sekaligus mengharumkan nama Untag Surabaya di tingkat nasional. (Dini)