Minum teh setelah makan merupakan kebiasaan yang masih banyak dilakukan masyarakat. Namun, sebagian orang meyakini bahwa kebiasaan ini dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan, terutama dalam hal penyerapan zat gizi.
Dilansir dari Detikfood.com, pengaruh teh terhadap penyerapan nutrisi memang tidak bisa dianggap sepele. Teh mengandung senyawa tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme, yakni jenis zat besi yang ditemukan pada sumber makanan nabati. Bila dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka panjang, teh dapat meningkatkan risiko anemia defisiensi besi, terutama pada individu yang memiliki pola makan rendah zat besi.
Pengaruh minum teh terhadap penyerapan nutrisi sangat tergantung pada jumlah yang dikonsumsi, frekuensi, waktu konsumsi, serta kondisi masing-masing individu. Kelompok yang lebih rentan mengalami defisiensi zat besi antara lain bayi dan anak-anak, remaja perempuan, wanita usia subur, ibu hamil dan menyusui, serta individu yang menjalani pola makan vegetarian.
Bagi mereka yang tidak termasuk dalam kelompok berisiko dan mengonsumsi teh dalam batas wajar, kebiasaan ini tidak menimbulkan gangguan berarti. Minum teh setelah makan tidak serta-merta membuat nutrisi dalam makanan menjadi sia-sia.
Di samping itu, informasi yang menyebutkan bahwa teh dapat menghambat penyerapan protein juga tidak sepenuhnya tepat. Protein tetap dapat diserap dengan baik meski seseorang mengonsumsi teh setelah makan.
Untuk tetap dapat menikmati teh tanpa mengganggu penyerapan nutrisi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, memenuhi kebutuhan zat besi dari makanan seperti daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, jeroan, dan hasil laut. Kedua, bagi individu yang termasuk dalam kelompok rentan, sebaiknya memberi jeda minimal satu jam antara waktu makan dan minum teh.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan suplementasi zat besi bagi wanita usia produktif dan remaja perempuan, sebanyak 30–60 mg per hari selama tiga bulan. Konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan jika dibutuhkan dosis yang lebih tinggi.
Fokus utama yang perlu diperhatikan bukan semata-mata pada konsumsi teh, melainkan pada pola makan secara keseluruhan. Banyak kasus defisiensi zat besi justru dipicu oleh pola makan yang kurang seimbang. Oleh karena itu, menjaga asupan gizi harian yang lengkap dan variatif tetap menjadi kunci utama dalam mendukung penyerapan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh.
Reporter