Sepanjang tahun 2025, ribuan kasus keracunan makanan dilaporkan terjadi di Indonesia. Lonjakan ini membuat isu keamanan pangan kembali menjadi sorotan serius, terutama karena sebagian besar kasus dipicu oleh makanan yang tidak diolah maupun disimpan dengan benar.
Keracunan makanan dapat dialami siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Gejalanya sering kali mirip dengan gangguan pencernaan biasa, seperti mual, muntah, diare, dan kram perut. Meski tampak sepele, kondisi ini dapat berakibat serius jika tidak segera ditangani.
Dilansir dari detikHealth, sejumlah bahan pangan sehari-hari ternyata tergolong rawan menimbulkan keracunan. Produk laut, misalnya, dapat menghasilkan racun alami bila terlalu lama dibiarkan di suhu ruang.
Telur dan daging ayam mentah berisiko membawa bakteri Salmonella dan Campylobacter, sedangkan daging sapi giling kerap dikaitkan dengan kontaminasi E. coli. Sementara itu, susu mentah tanpa proses pasteurisasi juga berbahaya karena dapat membawa bakteri Listeria.
Risiko serupa juga terdapat pada sayuran dan buah segar. Kontaminasi dapat terjadi akibat pestisida atau bakteri dari tanah dan air irigasi, terutama bila tidak dicuci dengan benar. Bahkan makanan bertepung seperti nasi pun dapat menjadi sarang bakteri Bacillus cereus apabila dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama.
Ahli gizi masyarakat, dr. Tan Shot Yen, menegaskan bahwa suhu 5–60 derajat Celsius merupakan “zona bahaya” bagi pangan karena bakteri dapat berkembang sangat cepat. Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, ia menyoroti kasus keracunan yang muncul akibat makanan disimpan tanpa pemanas, termasuk dalam program makan bergizi gratis.
Selain itu, kebiasaan di dapur juga menjadi faktor pemicu. Kontaminasi silang antara bahan mentah dan matang, tangan yang tidak dicuci, serta proses memasak yang kurang sempurna merupakan penyebab umum yang kerap terabaikan.
Untuk mencegah keracunan makanan, langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memasak bahan pangan hingga benar-benar matang, segera menyimpan makanan di kulkas bila tidak langsung dikonsumsi, memisahkan peralatan masak untuk bahan mentah dan matang, serta mencuci sayuran dan buah dengan air mengalir sebelum dimakan.
Meningkatnya kasus keracunan makanan ini menjadi pengingat penting bahwa keamanan pangan tidak boleh dianggap remeh. Kesadaran masyarakat untuk mengolah dan menyimpan makanan dengan benar adalah kunci agar bahan pangan sehari-hari tetap aman dikonsumsi. (Gisela)