Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah yang berada tepat sebelum bulan suci Ramadan. Dalam fase ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan kesiapan spiritual sebagai bekal memasuki bulan penuh ibadah. Salah satu amalan yang dikenal luas adalah puasa Nisfu Sya’ban, puasa sunnah yang dilaksanakan pada pertengahan bulan.
Puasa Nisfu Sya’ban dikerjakan pada tanggal 15 Sya’ban sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026, bulan Sya’ban 1447 H dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026 dan berakhir pada 18 Februari 2026. Dengan demikian, malam Nisfu Sya’ban atau malam ke-15 Sya’ban jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026.
Pada tahun 2026, puasa Nisfu Sya’ban dilaksanakan selama satu hari, bertepatan dengan 15 Sya’ban 1447 H atau Selasa, 3 Februari 2026. Mengacu pada kalender Hijriah resmi Kementerian Agama RI, pelaksanaannya dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Melansir Kompas.com, memasuki pertengahan bulan Sya’ban, sebagian umat Islam meningkatkan amalan ibadah malam dengan membaca Surah Yasin, memanjatkan doa, serta memperbanyak istighfar. Tradisi ini bukan tanpa landasan. Dalam khazanah keislaman klasik, malam Nisfu Sya’ban bahkan dikenal sebagai hari raya para malaikat.
Sya’ban sebagai Bulan Shalawat
Keutamaan lain bulan Sya’ban dikaitkan dengan turunnya perintah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran QS Al-Ahzab: 56. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
Sejumlah ulama menilai ayat tersebut mempertegas kedudukan bulan Sya’ban sebagai bulan shalawat. Amalan bershalawat dianjurkan untuk diperbanyak sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus persiapan spiritual menjelang Ramadan.
Malam Nisfu Sya’ban, yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban atau 3 Februari 2026, dipandang sebagai malam yang sarat rahmat. Dalam tradisi keislaman, malam ini disebut sebagai hari raya para malaikat karena pada saat itulah mereka menyampaikan laporan amal perbuatan manusia kepada Allah SWT dalam skala besar.
Atas dasar tersebut, perayaan spiritual para malaikat berlangsung pada malam hari. Jika manusia memiliki Idul Fitri dan Idul Adha, maka malaikat memiliki “hari kemuliaan” tersendiri ketika tugas utama mereka, mencatat dan melaporkan amal manusia, mencapai puncaknya.
Secara teologis, malaikat memegang peran penting dalam sistem pencatatan amal. Malaikat Raqib dan Atid bertugas mencatat seluruh perbuatan manusia, baik yang kecil maupun besar. Hal ini ditegaskan dalam Alquran:
“Dan sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat.” (QS Al-Infithar: 10–11)
Nisfu Sya’ban kemudian dimaknai sebagai momentum simbolik ketika laporan amal tahunan tersebut “diserahkan”. Karena itu, para malaikat digambarkan tengah bersujud, berdoa, serta memohonkan ampun bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari sekadar malam ritual, Nisfu Sya’ban dimaknai sebagai momentum refleksi untuk menata kembali perjalanan hidup sebelum memasuki bulan Ramadan, seiring keyakinan bahwa pada malam ini catatan amal manusia direkapitulasi.
Karena itu, Nisfu Sya’ban menjadi jembatan spiritual yang mengajak umat Islam menutup lembaran kesalahan melalui taubat, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan niat ibadah yang lebih sungguh-sungguh.
Reporter