Keindahan budaya Nusantara memancarkan pesonanya di Yudisium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya 2025. Acara yang digelar di Ruang R. Soeparman Hadipranoto, Lt.9 Graha Wiyata Untag Surabaya ini mengangkat tema keberagaman budaya, dengan peserta mengenakan busana adat dari berbagai daerah Indonesia.
Nuansa etnik terasa kental, mulai dari mahasiswa yang anggun mengenakan pakaian adat Minangkabau lengkap dengan suntiang megah dan songket emas, kebaya Jawa dengan selendang batik, busana adat Bali dengan udeng khas, hingga warna-warni pakaian adat Bugis, Dayak, dan Betawi. Setiap detail busana menceritakan kekayaan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tidak hanya pakaian, aksesoris tradisional seperti kalung manik-manik khas Kalimantan dan gelang perak dari Nusa Tenggara mempercantik penampilan peserta. Mereka menghadirkan jiwa budaya dalam setiap langkah, menjadikan yudisium lebih dari sekadar seremoni akademik. Perayaan ini menegaskan bahwa modernitas dan tradisi bisa berjalan beriringan, sekaligus menginspirasi generasi muda mencintai warisan leluhur di tengah dunia digital.
Acara dibuka dengan Tari Rupo Kembang khas Banyuwangi, dibawakan oleh Cheryl Firdausi Pramita dan Dinda Amelia dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Untag Surabaya.
“Tari Rupo Kembang ini menceritakan bagaimana manusia yang berbeda-beda bisa saling memahami, menghargai, dan hidup berdampingan. Setiap gerakannya punya pesan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi,” ujar Mita (15/8)
Keunikan lain terlihat dari penampilan Tim Angklung Gita Nada, yang terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan FEB Untag Surabaya. Suasana formal pun berubah hangat dengan tepuk tangan meriah bahkan standing ovation dari peserta yudisium. Hiburan lain berupa penampilan lagu dangdut dari tenaga kependidikan juga membuat suasana lebih cair dan mahasiswa merasa rileks.
Mengusung tema “Mengukir Masa Depan Ekonomi dengan Inovasi dan Patriotisme”, Yudisium FEB Untag Surabaya 2025 menjadi perayaan komitmen mencetak generasi unggul, berintegritas, dan berakar pada budaya bangsa.
Momen paling dinanti adalah foto bersama dengan busana adat, dari suntiang Minang hingga siger Sunda, kebaya anggun hingga baju bodo Sulawesi, berpadu membentuk harmoni warna yang memikat mata. Inilah wajah Indonesia yang beragam, indah, dan penuh makna.
Perayaan budaya ini mengingatkan bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan seiring dalam membentuk karakter generasi masa depan. Dengan memadukan nilai akademik dan kearifan lokal, Untag Surabaya menunjukkan komitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bangga dengan identitas budaya Indonesia. (Boby)