Risiko kebakaran baterai lithium kembali menjadi sorotan setelah insiden yang menimpa Terra Drone Indonesia. Melansir dari CNN Indonesia, kebakaran gedung perusahaan tersebut diduga dipicu gangguan pada baterai lithium yang menyebabkan thermal runaway, memperlihatkan bagaimana komponen kecil ini dapat menimbulkan dampak besar jika mengalami kerusakan atau salah penanganan.
Terra Drone, perusahaan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) asal Jepang yang beroperasi di berbagai negara termasuk Indonesia, menyediakan layanan pemetaan udara, inspeksi infrastruktur, hingga monitoring industri. Karena operasionalnya sangat bergantung pada baterai lithium, insiden kebakaran tersebut sontak menarik perhatian banyak operator drone profesional.
Dua pilot drone tersertifikasi dari Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, tepatnya Divisi Umum dan Informasi Warta 17 Agustus, Yogi Raka Siwi, S.I.Kom., M.I.Kom., dan Fahmi Abdillah, S.I.Kom., M.I.Kom., turut memberikan pandangan mereka mengenai pentingnya keamanan penggunaan baterai lithium dalam operasional drone.
Yogi, yang mulai aktif menggunakan drone sejak 2021-2022 dan memproduksi konten udara secara intensif sejak akhir 2022, menjelaskan bahwa timnya sejak awal telah menerapkan perawatan baterai secara ketat.
“Dari awal, kami selalu melepas baterai drone setelah digunakan, lalu mengisi baterai H-1 atau beberapa jam sebelum produksi sesuai kebutuhan video. Untuk penggunaan, kalau kapasitas sudah di angka 20%, baterai harus diganti. Mengoperasikan drone di bawah level itu memang tidak disarankan,” terang Yogi (10/12/25).
Ia menambahkan bahwa aspek keamanan baterai lithium memang disinggung dalam pelatihan sertifikasi, meskipun masih pada tingkat pengetahuan dasar. Materi yang dibahas mencakup keamanan baterai, remote control, hingga unit drone yang membutuhkan penanganan berbeda.
Menurutnya, insiden Terra Drone menjadi pengingat keras bagi semua operator drone.
“Kejadian itu sangat disayangkan. Semoga membuat pengguna drone lebih aware terhadap perawatan baterai. Saya berharap ke depan para pakar dapat menemukan inovasi baru yang lebih aman, seperti baterai sodium-ion atau teknologi lain jika memungkinkan,” ujarnya
Peristiwa tersebut juga membuat tim dokumentasi internal semakin meningkatkan kewaspadaan.
“Kejadian itu membuat kita lebih waspada, karena baterai yang terlihat biasa saja bisa berakibat fatal kalau salah penggunaan, pengisian, atau penyimpanan. Semoga dalam waktu dekat dapat mengkaji ulang SOP di Warta 17 Agustus terkait hal ini,” tambahnya
Sementara itu, Fahmi, yang juga seorang pilot drone tersertifikasi, menjelaskan praktik perawatan baterai yang ia terapkan dalam kegiatan dokumentasi harian.
“Baterai selalu kami simpan di tempat kering, ventilasi baik, dan tidak terkena panas. Biasanya disimpan dalam mode storage charge, tidak pernah penuh 100%, kalau memang tidak ada jadwal terbang,” jelas Fahmi (10/12/25).
Pada proses pengisian daya, ia memastikan prosedur dilakukan secara disiplin: pengisian tidak boleh ditinggal, harus menggunakan charger bawaan, serta dilakukan setelah baterai benar-benar dingin.
Insiden Terra Drone baginya menjadi pengingat bahwa risiko baterai lithium bukan sekadar isu teknis, tetapi ancaman nyata dalam penggunaan perangkat berbasis baterai.
“Jujur saya cukup kaget. Baterai drone memang kecil, tapi kalau terjadi thermal runaway, dampaknya bisa besar. Itu pengingat keras bahwa peralatan kecil pun punya risiko serius kalau prosedur tidak dipatuhi,” ungkapnya.
Fahmi menambahkan bahwa ia dan tim segera meninjau ulang praktik yang selama ini diterapkan, termasuk pengecekan rutin kondisi baterai, perbaikan metode penyimpanan, penegasan aturan charging, dan mulai mempertimbangkan penggunaan tas fireproof untuk penyimpanan.
“Perlakukan baterai drone seperti perangkat berisiko tinggi. Jangan pernah charging sambil ditinggal, jangan memaksa baterai yang mulai menunjukkan tanda kerusakan, dan selalu simpan di kondisi suhu aman. Banyak insiden besar terjadi bukan karena teknologinya salah, tetapi karena kita meremehkan prosedur kecil yang seharusnya dipatuhi,” tutup Fahmi