Keindahan pesisir Mentawai menjadi sumber inspirasi bagi tiga mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, hingga mengantarkan mereka meraih Juara 3 Nasional dalam Kompetisi Kemaritiman Mahasiswa Nasional (KKMN) 2025 di Makassar.
Tim yang terdiri dari Yuniar Dwi Putri, Devita Permatasari, dan Linda Anas Tasya Oktaviani sukses memikat dewan juri lewat karya poster berjudul “Surga Mentawai yang Megah dalam Budaya, Kuat dalam Laut, dan Utuh dalam Keharmonisan.” Kompetisi yang diselenggarakan Universitas Hasanuddin ini diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia dan merupakan lanjutan dari lomba karya tulis ilmiah bertema serupa.
Bagi Devita Permatasari atau akrab disapa Ita, ajang ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba akademik hingga ke luar pulau.
“Saya awalnya ditawari lomba ini saat sedang bertanding panahan di PORPROV Malang. Setelah kejuaraan selesai, saya pikir daripada diam saja, lebih baik mencoba hal baru. Akhirnya saya langsung setuju ikut KKMN,” ujarnya (21/10).
Ita menambahkan, motivasinya bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga untuk menantang diri setelah beberapa kali gagal di lomba poster sebelumnya.
“Saya ingin menjelajah Indonesia lewat jalur lomba. Dari pengalaman ini saya belajar banyak hal dan semakin termotivasi untuk ikut lomba berikutnya,” tambah mahasiswa semester lima tersebut.
Sementara itu, Linda Anas mengaku tak menyangka timnya bisa naik podium di antara banyaknya karya menarik.
“Rata-rata peserta lain membuat infografis, sedangkan kami memilih membuat poster murni. Ternyata justru itu yang menjadi pembeda,” ungkapnya.
Ia juga menyebut pengalaman mengikuti lomba di luar pulau memberi banyak wawasan dan jejaring baru.

Secara visual, poster mereka menghadirkan nuansa kuning keemasan dengan suasana pesisir Mentawai yang hidup. Sisi kiri menampilkan rumah adat dan aktivitas masyarakat menenun serta menari, sedangkan sisi kanan menggambarkan laut biru dengan ombak besar, simbol kekuatan maritim Mentawai. Poster ini mencerminkan keharmonisan antara alam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.
“Indonesia kaya akan pulau dan budaya. Kami ingin menunjukkan bahwa Mentawai bukan hanya indah karena lautnya, tapi juga kaya akan tradisi dan kearifan lokal,” jelas Ita.
Ia menambahkan, Pulau Bali turut menjadi inspirasi karena mampu menyeimbangkan pesona alam dan budaya. “Kami berharap Mentawai juga dikenal bukan hanya karena lautnya, tetapi karena budayanya yang luar biasa,” imbuhnya.
Dalam proses pembuatan, tim menghadapi tantangan menentukan komposisi warna dan tata elemen visual agar sesuai konsep.
“Kami sampai tiga kali revisi desain agar hasilnya harmonis. Bahkan warna awan pun kami ubah beberapa kali menjelang tenggat pengumpulan,” kenang Ita.
Lewat karya ini, mereka ingin mengingatkan generasi muda akan pentingnya melestarikan budaya bahari Indonesia. “Laut bukan hanya sumber daya, tapi juga sumber kehidupan dan budaya yang membentuk identitas masyarakat pesisir,” tutur Ita.
Prestasi ini menjadi bukti kreativitas mahasiswa Psikologi Untag Surabaya dalam menggabungkan nilai budaya dan perspektif psikologis dalam karya visual yang edukatif.
“Kami berharap karya ini bisa menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya Mentawai dan memperkenalkannya ke dunia,” tutupnya.
Reporter