Dunia kerja modern menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis. Profesionalisme dan etika menjadi pondasi utama yang harus dimiliki setiap individu agar mampu bersaing dan tetap relevan.
Pesan inilah yang disampaikan oleh A.A.I. Prihandari Satvikadewi, S.Sos., M.Med.Kom., atau yang akrab disapa Vika, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya, saat membawakan materi “Dasar-Dasar Etika & Profesionalisme di Tempat Kerja” pada Untag Career Fest 2025 (25/8)
Dalam pemaparannya, Vika menegaskan bahwa profesionalisme tidak hanya berkaitan dengan penampilan atau kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga sikap dan perilaku yang mencerminkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.
“Profesionalisme adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan standar tinggi berdasarkan etika, etos kerja, dan norma sosial,” ungkap dosen Ilmu Komunikasi itu (25/8)
Ia menjelaskan, etika menjadi pondasi yang menopang profesionalisme. Beberapa aspek penting dalam penerapan etika kerja antara lain menjaga kerahasiaan, beradaptasi dengan teknologi secara etis, menunjukkan rasa hormat, menjunjung keadilan, memegang teguh integritas, dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.
Sebagai contoh, menjaga kerahasiaan berarti melindungi informasi perusahaan dan tidak menyebarkan data proyek sembarangan, apalagi di media sosial.
Vika juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak. Alat digital, menurutnya, sebaiknya digunakan untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk praktek yang melanggar etika seperti plagiarisme berbasis AI.
“Teknologi adalah sarana pendukung kinerja, bukan jalan pintas yang justru merusak integritas,” tegas mantan Kaprodi Ilmu Komunikasi tersebut
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga rasa hormat di tempat kerja. Komunikasi yang sopan, baik secara langsung maupun daring, mencerminkan profesionalisme seseorang. Keadilan dalam mengambil keputusan pun harus dijalankan tanpa diskriminasi.
Tantangan dunia kerja saat ini juga semakin kompleks. Salah satunya adalah kaburnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan akibat kehadiran media sosial.
“Media sosial membuat apa yang kita lakukan di luar kantor bisa mempengaruhi reputasi profesional kita. Maka, bijaklah dalam bersikap, bahkan di dunia maya,” tegasnya.
Perbedaan budaya kerja lintas negara pun menjadi tantangan lain yang menuntut kemampuan adaptasi serta pemahaman terhadap norma profesional yang beragam. Vika menegaskan, keberhasilan karir bukan hanya diukur dari kompetensi teknis, melainkan juga sikap moral dan etika yang dijaga secara konsisten.
“Keberhasilan karir tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat kita secara teknis, tetapi juga bagaimana kita menjaga nilai-nilai etika dan membangun citra diri yang baik,” imbuhnya
Menutup materinya, ia mengajak peserta untuk terus mengasah diri melalui pelatihan dan pengembangan karakter.
“Persaingan kerja ke depan akan semakin ketat. Mereka yang memegang teguh etika, menunjukkan integritas, dan menghormati orang lain akan selalu memiliki tempat,” tutupnya
Melalui Untag Career Fest 2025, materi “Dasar-Dasar Etika & Profesionalisme di Tempat Kerja” yang disampaikan Vika menjadi bekal penting bagi mahasiswa dan pencari kerja untuk berkarier dengan integritas dan memberi dampak positif. (Boby)