Untag Surabaya menegaskan bahwa Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bukan sekadar pemenuhan administrasi akreditasi, melainkan fondasi utama dalam membangun budaya mutu perguruan tinggi yang unggul dan berkelanjutan. Penegasan ini disampaikan dalam Workshop Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM) Jawa Timur, pada Rabu (21/1/26).
Penegasan tersebut disampaikan oleh Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro, S.T., M.T., yang kehadirannya diwakili oleh Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, saat membacakan sambutan rektor. Dalam sambutannya, Rektor Untag Surabaya menekankan bahwa SPMI dan instrumen akreditasi sejatinya tidak dapat dipisahkan.
“SPMI adalah sistem internal yang menentukan budaya mutu, sedangkan akreditasi merupakan pengakuan eksternal atas konsistensi dan kualitas pelaksanaan budaya mutu tersebut. Oleh karena itu, keselarasan keduanya menjadi kunci bagi perguruan tinggi yang ingin unggul dan berkelanjutan,” ungkapnya (21/1)
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa praktik terbaik dalam pengelolaan mutu perguruan tinggi dapat diwujudkan dengan menjadikan siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP) sebagai ruh dalam setiap aktivitas tridarma perguruan tinggi dan tata kelola institusi.
“Standar SPMI harus disusun selaras dengan kriteria akreditasi. Audit mutu internal dilakukan berbasis data, dan setiap temuan harus ditindaklanjuti secara nyata melalui perencanaan serta penganggaran,” tegasnya
Dengan penerapan sistem mutu yang konsisten, menurutnya, akreditasi tidak lagi dipahami sebagai kegiatan insidental atau sekadar target administratif.
“Akreditasi adalah hasil alami dari sistem mutu yang berjalan dengan baik. Ketika budaya mutu tumbuh, kinerja menjadi terukur, dan peningkatan berkelanjutan menjadi kebiasaan,” tambahnya.
Dalam amanat yang disampaikan melalui perwakilan tersebut, Harjo juga berharap seluruh pemangku kepentingan di lingkungan perguruan tinggi memiliki pemahaman dan persepsi yang sama mengenai pentingnya mutu pendidikan tinggi.
“Dengan kesamaan persepsi, akan tercipta sinergi yang kuat untuk meningkatkan tata kelola universitas menuju Good University Governance,” imbuhnya
Menutup pesannya, Harjo mengajak seluruh sivitas akademika untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjadikan SPMI sebagai landasan utama pengembangan institusi.
“Mari kita jadikan SPMI sebagai fondasi dalam meraih akreditasi unggul, bukan sekadar target administratif, tetapi sebagai ikhtiar membangun perguruan tinggi yang bermutu, berdaya saing, dan berintegritas,” tutupnya (Boby)