Studi Untag Surabaya Temukan Kunci Pendorong Niat Digitalisasi UKM

  • 08 Desember 2025
  • 2925

Di tengah derasnya tuntutan era digital, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di berbagai daerah masih berjuang untuk beradaptasi. Rendahnya literasi digital, terbatasnya infrastruktur, hingga minimnya kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi membuat banyak UKM tertinggal dalam persaingan.


Situasi tersebut sangat terasa di Kabupaten Barito Selatan, di mana sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan cara-cara tradisional meski dunia bisnis terus bergerak menuju digitalisasi. Kegelisahan atas kondisi ini menjadi titik perjalanan akademik Dr. Permana Sari, S.Si., M.M., MBA, yang memilih meneliti akar persoalan digitalisasi UKM yang berhasil mengantarkannya meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi (DIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya.


Sidang terbuka program DIE berlangsung pada Kamis (4/12/25) di Meeting Room Graha Wiyata Lantai 1 Untag Surabaya, serta dipimpin langsung oleh Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., C.M.A., C.P.A.


Melalui disertasi berjudul “Pengaruh Perceived Usefulness, Perceived Ease of Access, Perceived Enjoyment, Perceived Reference Group, dan Efficacy for Success terhadap Performance of Digitalization Access pada UKM dengan Intention to Digitalization Access sebagai Variabel Mediasi di Kabupaten Barito Selatan,” Permana Sari membedah faktor-faktor psikologis dan struktural yang memengaruhi keberhasilan digitalisasi UKM.


Penelitiannya berangkat dari kenyataan bahwa UKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, namun masih banyak pelaku usaha mikro tertinggal dalam pemanfaatan teknologi. Di Barito Selatan khususnya, digitalisasi terhambat oleh keterbatasan infrastruktur, minimnya literasi digital, dan kuatnya pola usaha tradisional.


Permana Sari menegaskan bahwa digitalisasi bukan hanya penggunaan perangkat atau aplikasi, tetapi sebuah proses sosial yang sangat dipengaruhi persepsi, keyakinan, dan pengalaman pelaku usaha. Berdasarkan kajian terhadap 283 pelaku UKM, ia menemukan bahwa persepsi akan manfaat teknologi menjadi faktor pendorong terbesar munculnya niat digitalisasi.


Ketika pelaku usaha meyakini bahwa teknologi mampu meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan menekan biaya operasional, tekad mereka untuk mengadopsinya meningkat signifikan. Semakin mudah teknologi dipahami dan digunakan, semakin besar pula minat UKM untuk mengintegrasikannya dalam bisnis.


Temuan menarik lainnya datang dari faktor emosional dan sosial. Meski rasa menyenangkan saat menggunakan teknologi dapat menumbuhkan rasa ingin mencoba, faktor tersebut tidak secara langsung meningkatkan kinerja digitalisasi. Sebaliknya, kelompok rujukan, mulai dari komunitas bisnis, pelanggan, hingga jejaring usaha, memberikan dorongan besar pada tahap awal, namun pengaruhnya melemah setelah teknologi mulai dijalankan.


Satu poin yang sangat ditekankan Permana Sari adalah pentingnya efficacy for success, yakni keyakinan pelaku UKM terhadap kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi. Pelaku usaha yang percaya diri cenderung lebih adaptif, tekun belajar, dan gigih menghadapi kendala teknis.


“Yang sering terlupakan adalah membangun kepercayaan diri para pelaku UKM. Tanpa keyakinan bahwa teknologi itu bisa membantu mereka, proses digitalisasi akan selalu berjalan setengah hati,” ungkapnya (4/12)


Digitalisasi bukan semata urusan aplikasi, melainkan perjalanan mengubah pola pikir, membangun keberanian, dan mendorong pelaku usaha agar mampu melihat peluang lebih luas daripada yang selama ini mereka bayangkan.


Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa niat mengakses teknologi digital memegang peranan sentral dalam meningkatkan performa digitalisasi UKM. Namun, niat tersebut kerap terhambat oleh ekosistem pendukung yang belum kuat, pelatihan yang terbatas, komunitas yang belum aktif, serta dukungan kebijakan yang perlu diperkuat.


Permana Sari menutup disertasinya dengan menekankan pentingnya intervensi holistik agar UKM Barito Selatan dapat melangkah sejajar dengan perkembangan ekonomi digital. Penguatan literasi, pelatihan berkelanjutan, komunitas yang suportif, dan kebijakan daerah yang adaptif menjadi fondasi agar UKM mampu bersaing. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\