Tim Pencak Silat Untag Sabet 6 Medali di Piala Wali Kota Surabaya 2025

  • 29 Juli 2025
  • 3088

Tim pencak silat Untag Surabaya berhasil meraih prestasi non-akademik dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Piala Wali Kota Surabaya 2025 dengan total enam medali sekaligus menyabet gelar Juara Umum 3 di kategori dewasa.


Kejuaraan bergengsi ini berlangsung pada 16–18 Mei 2025 di Graha Widya Bhakti, Kampus STIESIA Surabaya, dan diikuti oleh sekitar 1.400 atlet pencak silat dari berbagai perguruan silat, lembaga pendidikan, dan daerah di Indonesia. 


Ajang ini merupakan bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke-732 dan bertujuan menjaring bibit atlet potensial menuju Kejurprov hingga Porprov Jatim mendatang.


Kompetisi ini diinisiasi oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Surabaya, dengan mempertandingkan berbagai kategori: tanding, tunggal, ganda, regu, dan solo kreatif. Setiap atlet berlaga dalam kelas sesuai berat badan, mulai dari kelas A (45–50 kg) hingga kelas I (di atas 85 kg).


Tim Untag Surabaya berhasil menyumbangkan 2 medali emas, 2 medali perak, dan 2 medali perunggu. Salah satu pencapaian paling membanggakan datang dari Nabil, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum UKM Merpati Putih Untag Surabaya, yang berhasil meraih medali emas sekaligus dinobatkan sebagai Pesilat Terbaik Kategori Dewasa. 


“Pertama tentu bersyukur karena ini medali emas keempat saya. Tapi yang paling mengejutkan adalah saat dinobatkan sebagai pesilat terbaik. Saya sempat cedera dan latihan sering sepi, jadi kemenangan ini punya arti besar buat saya,” ujar Nabil (11/7)


Nabil mengaku tertarik pada pencak silat sejak menjadi mahasiswa baru pada 2022, setelah melihat demo UKM dan mendapat dorongan dari tetangganya. Ia mengalami sejumlah tantangan selama persiapan, termasuk cedera engkel dan lutut. Namun, tekad dan latihan intensif membawanya meraih hasil maksimal.


Medali emas kedua disumbangkan oleh Andika Effendi di kelas A Dewasa Putra. Sementara itu, Melani Jaga berhasil meraih medali perak di kelas B Dewasa Putri, dan Ilyasa Dzaki di kelas I Dewasa Putra.


“Saya bersyukur bisa mengendalikan mental dan tampil sampai final. Ini jadi pijakan untuk kejuaraan berikutnya,” kata Melani, yang baru pertama kali mengikuti kejuaraan resmi dan harus berhadapan dengan pesilat tangguh dari BINPRES PSHT Surabaya. (11/7)


Medali perunggu diraih oleh Arvik Devitza (Psikologi) di kelas A Dewasa Putri dan M. Leo Saputra (Sastra Inggris) di kelas A Dewasa Putra. Arvik, yang telah menekuni pencak silat sejak SMP, bertanding dalam kondisi kurang fit dan kalah tipis hanya satu poin.


“Saya kalah tipis, tapi ini jadi pelajaran berharga. Medali ini bikin saya makin semangat,” jelas Arvik (15/7)


Seluruh atlet menjalani masa persiapan intensif selama lebih dari satu bulan. Latihan fisik, penguatan teknik, dan simulasi tanding dilakukan secara rutin empat kali seminggu. Mereka juga dituntut untuk tetap menjaga performa akademik di tengah jadwal latihan yang padat.


Pihak kampus turut memberikan dukungan penuh terhadap partisipasi mahasiswa dalam ajang ini, mulai dari pembiayaan pendaftaran, fasilitas latihan, hingga apresiasi atas prestasi yang diraih. Bagi para atlet, pencak silat bukan sekadar olahraga. Mereka memetik nilai-nilai seperti disiplin, pengendalian diri, dan ketahanan mental yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. (Salsha)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\