Prestasi membanggakan kembali diraih SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya. Sebanyak delapan tim berhasil lolos tahap Penilaian Review Proposal Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026, menegaskan komitmen sekolah dalam membangun budaya riset di kalangan siswa.
Pengumuman kelolosan disampaikan secara daring pada 6 April 2026. Para peserta selanjutnya memasuki tahap pelaksanaan penelitian yang dijadwalkan berlangsung mulai April hingga Agustus 2026.
Maulidatul Kurnia Pratiwi, M.Pd., selaku guru biologi SMATAG Surabaya sekaligus guru pembimbing olimpiade, menjelaskan bahwa proses pembinaan dilakukan secara sistematis sejak tahap awal.
“Kami membina siswa mulai dari pencarian ide hingga penyusunan proposal beserta sistematikanya. Prosesnya dimulai dari seleksi internal sekolah, di mana guru-guru menjadi juri untuk memilih proposal terbaik sebelum diajukan ke OPSI,” ujarnya (10/4)
Tiwi, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa bimbingan dilakukan secara fleksibel agar tidak mengganggu kegiatan akademik siswa.
“Bimbingan dilakukan secara berkala, bisa satu hingga dua minggu sekali, dan tidak terbatas di sekolah saja,” imbuhnyaa
Dalam proses penyusunan proposal, pendalaman metode penelitian menjadi tantangan utama. Untuk mengatasinya, siswa didorong melakukan kajian literatur dari berbagai sumber ilmiah.
“Kami banyak melakukan literature review dari jurnal dan artikel ilmiah agar metode yang disusun benar-benar kuat,” jelasnya.
Ia juga menilai kesiapan mental siswa menjadi salah satu keunggulan dalam menghadapi proses revisi.
“Anak-anak sudah terbiasa dengan revisi, jadi tidak mudah menyerah. Mereka siap secara mental untuk mengikuti OPSI tahun ini,” tegas Tiwi
Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, SMATAG memasang target lebih tinggi.
“Tahun lalu masih tahap percobaan, sekarang kami sudah lebih memahami medan. Harapannya tentu bisa meraih juara,” tegasnya.
Salah satu tim yang lolos dipimpin oleh Syafa’a Amelia Zahra, siswa kelas XI-3 yang telah dua kali mengikuti OPSI. Ia mengaku ketertarikannya pada penelitian berawal dari pengalaman tak terduga.
“Awalnya saya tidak menyangka karena tiba-tiba diajak ikut penelitian. Tapi ternyata seru, dan saya jadi pengen ikut lagi,” ungkapnya.
Timnya mengangkat isu kesehatan yang relevan dengan kondisi masyarakat.
“Kami meneliti tentang gastritis, terinspirasi dari kasus viral kematian akibat gangguan lambung. Kami menggunakan daun Rhizophora mucronata dari mangrove sebagai bahan tambahan makanan untuk membantu mengatasi masalah lambung,” jelas Syafaa
Proses penelitian dilakukan melalui diskusi intensif, studi literatur, serta bimbingan rutin bersama guru. Tantangan utama terletak pada pembagian waktu antara kegiatan organisasi dan akademik.
“Kendala terbesar ada pada pembagian waktu, karena saya dan beberapa anggota juga aktif di OSIS serta tetap harus mengejar akademik,” jelasnya.
Ia menargetkan capaian yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
“Saya ingin hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya, bisa menjadi finalis, dan membawa pulang sertifikat.”
Adapun siswa yang tergabung dalam delapan tim yang lolos tahap review proposal OPSI 2026 adalah Bagus Kadek Gilang Permana Putra, Cheryl Angela Boediono, Priscilla Putri Sispantoro, Achmad Dzakwanu Rizky, Aulia Syifa Alrofi, Janeeta Adelia Fredella, Maulidia Shafaa Harijadi, Nayla Maiza Faustina, Aprillia Frisca Dewi, Clarisha Yasmira Dewi, Khanza Aquilina Adira, Senja Syifa’el Shinby Andhanie, Syafa’a Amelia Zahra, Fihrin Kusuma Ramadhani, Leonid Swastika Adn, dan Azizah Maheswari Santosa.
Prestasi ini menjadi kebanggaan sekolah sekaligus inspirasi bagi siswa lain untuk terjun dalam dunia penelitian. Semangat untuk terus mencoba dan tidak mudah menyerah menjadi nilai yang terus ditekankan dalam proses tersebut.
“Jangan takut mencoba. Saya juga mulai dari nol, tapi kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya,” tutupnya (Dini)