Garda terdepan dalam membuka akses internasional bagi sivitas akademika, Badan Kerjasama Untag Surabaya melakukan langkah konkret melalui penyelenggaraan kegiatan “Your Study Abroad Journey”. Bekerja sama dengan IDP Education Surabaya, program ini digelar pada Selasa, 18 November 2025, di Auditorium Lt. 6 Gedung R. Ing. Soekonjoro, Untag Surabaya.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya sistematis Badan Kerjasama untuk memastikan mahasiswa, alumni, dan dosen memiliki pemahaman menyeluruh tentang persiapan studi di luar negeri, mulai dari tes IELTS, alur pendaftaran kampus, hingga peluang beasiswa global.
Kepala Badan Kerjasama Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguasaan bahasa Inggris merupakan kunci utama dalam menembus perguruan tinggi mancanegara. Kegiatan ini, tegasnya, adalah wujud komitmen Badan Kerjasama dalam memperluas kesempatan dan jaringan internasional bagi seluruh sivitas akademika.
“Yang menjadi masalah untuk masuk ke negara lain tentu kita harus mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris. Oleh karena itu, kami memfasilitasi agar mereka dapat mengejar mimpi ke luar negeri seperti pepatah ‘tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina,’” ujarnya (18/11)
Sesi materi pertama disampaikan oleh Aulia A., Office Manager IDP Surabaya Timur, yang menjelaskan peran IDP sebagai lembaga resmi pendamping pendaftaran studi ke luar negeri sekaligus penyedia tes IELTS. Dengan jaringan hampir 800 universitas di enam negara, IDP bekerja sebagai mitra penting dalam mempermudah proses administrasi hingga keberangkatan mahasiswa.
“Kita sebagai jembatan orang Indonesia yang mau ke luar negeri. Kami membantu pendaftaran, administrasi sampai proses keberangkatan. IELTS di IDP lebih banyak tersedia dalam bentuk tes komputer sehingga hasil lebih cepat,” jelasnya.
Aulia juga menguraikan fungsi, standar skor, hingga biaya IELTS. IELTS dinilai lebih dominan digunakan untuk tujuan studi dibanding migrasi. Skor ideal untuk studi umumnya berada di kisaran 6,5. Tes ini memiliki biaya Rp3.490.000 dengan dua sertifikat hasil, serta tersedia fasilitas One Skill Retake senilai Rp2.100.000 bagi peserta yang ingin mengulang salah satu komponen dalam 60 hari.
Dalam sesi wawancara, Aulia menyoroti kesulitan terbesar peserta dalam mengerjakan IELTS.
“Writing dan speaking adalah yang paling menantang karena itu murni skill. Sementara listening dan reading masih bisa dipelajari dari textbook. Mahasiswa memperkaya paparan bahasa Inggris melalui film, lagu, maupun podcast,” ungkapnya.
Aulia juga menyebut Australia dan Inggris sebagai negara tujuan studi yang saat ini paling diminati pelajar Indonesia. Ia memberikan pesan agar mahasiswa memulai persiapan jauh-jauh hari.
“Yang paling penting adalah persiapan IELTS karena banyak mahasiswa terhambat di skor persyaratan kampus. Sebaiknya mulai dipersiapkan matang sebelum menyiapkan hal lainnya,” ujarnya
Materi berikutnya diberikan oleh Astrin K., Counselor bidang UK/IE, yang memaparkan proses pengajuan LOA (Letter of Offer) dari kampus luar negeri apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi.
“Berbagai skema beasiswa mulai dari LPDP fully funded, program mitra LPDP dengan passing grade lebih rendah, hingga beasiswa bundling dan partial scholarship yang hanya menanggung biaya kampus,” jelasnya
Astrin juga menegaskan pentingnya riset dan pemilihan kampus sesuai minat serta tujuan akademik mahasiswa.
Sebagai bentuk lanjutan dari program ini, Badan Kerjasama juga mengumumkan pelaksanaan IELTS Simulation Test pada 25 November. Uji coba ini terbuka bagi peserta yang ingin melakukan latihan langsung sebagai evaluasi kemampuan sekaligus tahapan persiapan menuju studi ke luar negeri. Melalui langkah ini, Badan Kerjasama Untag Surabaya terus mempertegas perannya sebagai katalis internasionalisasi kampus dan fasilitator peningkatan daya saing global mahasiswa. (Dini)