Untag National Cultural Competition (UNCC) 2025 kembali menjadi ruang berkumpulnya para talenta muda yang mencintai musik keroncong. Ajang bergengsi yang menjadi ciri khas Kampus Merah Putih dan diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Untag Surabaya ini mendorong regenerasi pelestari budaya di kalangan generasi muda.
Lomba Keroncong Nasional bertajuk “Swaralaya Citra Kusuma” digelar pada Kamis (27/11/25) di Ruang R. Ing Soekonjono Lantai 6 Untag Surabaya. Ratusan peserta dari jenjang siswa, mahasiswa, hingga umum tampil dengan antusias. Tahun ini, UNCC 2025 mencatat partisipasi besar dengan hadirnya 9 tim finalis dari berbagai daerah di Indonesia, melibatkan 73 finalis dan total 150 peserta yang bersaing di tiga kategori lomba.
Acara turut dihadiri jajaran pimpinan YPTA Surabaya, Rektor dan Wakil Rektor Untag Surabaya, serta Kepala Sekolah SMATAG Surabaya yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan seni budaya berskala nasional ini.
Pembukaan UNCC 2025 ditandai dengan pemukulan gong oleh Pembina YPTA Surabaya, Bambang DH, didampingi Ketua YPTA Surabaya J. Subekti, S.H., M.M., Pengawas YPTA Surabaya Ir. Bantot Sutriono, M.Sc., serta Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA.
Dalam sambutannya, Prof. Mulyanto menegaskan bahwa UNCC merupakan wujud komitmen Untag Surabaya menjaga budaya Indonesia.
“Ini merupakan lomba keroncong nasional tahun kedua. Sebagai Kampus Merah Putih, kami memiliki tanggung jawab besar menjaga budaya Indonesia. Keroncong adalah ciri khas bangsa yang harus terus diturunkan kepada generasi muda,” ujarnya (27/11)
Ia juga menambahkan bahwa pemenang kategori siswa berkesempatan mendapatkan beasiswa kuliah di Untag Surabaya sebagai bentuk apresiasi terhadap talenta muda di bidang seni.
Sejalan dengan itu, Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., turut memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Budaya Indonesia tidak boleh tergerus oleh budaya luar. Melalui kegiatan seperti ini, kita membina dan mengembangkan identitas kebudayaan nasional. Kampus Merah Putih selalu terbuka untuk kegiatan pendidikan dan budaya dari mana pun,” tegasnya
Babak final UNCC 2025 berlangsung ketat. Setiap tim menampilkan aransemen terbaik dengan karakter musik yang beragam, mulai dari keroncong klasik, keroncong kreatif, hingga sentuhan kontemporer yang tetap menjaga pakem tradisi. Keberagaman gaya inilah yang memperlihatkan bagaimana keroncong terus berevolusi tanpa kehilangan jati dirinya.
Pada kategori mahasiswa, Batara Kresna dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta meraih Juara 1 berkat harmonisasi kuat dan komposisi matang. Djani Pirata dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menempati Juara 2 sekaligus menyabet penghargaan Best Vokal. Kelompok Sendratasik dari Unesa meraih Juara 3 melalui aransemen rapi dan pembawaan repertoar yang komunikatif.
Pada kategori siswa, Irama Emas dari SMKN 2 Kasihan Yogyakarta tampil gemilang dan meraih Juara 1. Swandela dari MAN 8 Jombang menyusul di posisi Juara 2, sementara Djong Piece dari MAN 1 Trenggalek meraih Juara 3 berkat pembawaan lagu yang ekspresif serta teknik musikal yang matang untuk level pelajar.
Kategori umum juga tidak kalah kompetitif. Saka Asta dari Semarang meraih Juara 1 sekaligus penghargaan Best Aransemen atas kreativitas memadukan unsur klasik dan modern. Impresif Riang Gembira dari Sidoarjo meraih Juara 2, sementara kelompok Sinkron, juga dari Sidoarjo, menempati Juara 3 dengan interpretasi musikal stabil dan harmonisasi kuat.
Seluruh finalis merupakan peserta terpilih dari babak penyisihan dan berhasil menunjukkan kualitas terbaik. Keragaman gaya dan kreativitas mereka mencerminkan perkembangan positif musik keroncong di kalangan generasi muda maupun pelaku seni daerah. (Boby)