Waspada Deepfake, Penipuan Gaya Baru Mengintai Keluarga Kita

  • 07 Januari 2026
  • 805

Maraknya penggunaan kecerdasan buatan memicu peningkatan kejahatan digital berbasis deepfake. Modus penipuan ini memanfaatkan manipulasi wajah dan suara yang menyerupai orang terdekat, sehingga semakin sulit dikenali dan berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi masyarakat.




Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga melahirkan bentuk kejahatan digital yang semakin canggih. Salah satunya adalah penipuan berbasis deepfake, teknologi yang mampu memalsukan wajah, gerak bibir, hingga suara secara sangat realistis. Pelaku kerap meniru anggota keluarga, rekan kerja, atau figur publik untuk menurunkan kewaspadaan korban.




Dalam banyak kasus, pelaku menyusup ke grup keluarga atau memanfaatkan komunikasi personal untuk menciptakan kedekatan emosional. Tren peningkatan konten deepfake secara global dalam beberapa tahun terakhir menandakan bahwa ancaman ini telah menjadi persoalan serius dalam keamanan siber, bukan lagi sekadar risiko di masa depan.




Modus penipuan deepfake umumnya dirancang untuk menciptakan kepanikan dan rasa mendesak. Video call dengan dalih gangguan sinyal sering digunakan agar ketidaksempurnaan visual tidak mudah terdeteksi. Sementara itu, pesan suara berbasis AI biasanya terdengar mirip, namun cenderung datar dan kurang ekspresi. Selain itu, pelaku juga memanfaatkan giveaway palsu dengan mencatut nama tokoh terkenal untuk mengarahkan korban ke tautan phishing.




Ketika korban lengah, pelaku segera meminta transfer dana atau kode verifikasi akun. Jika permintaan tersebut dipenuhi, korban berisiko mengalami kerugian finansial hingga pengambilalihan akun pribadi. Pola ini menunjukkan bahwa penipuan deepfake tidak hanya menyasar individu, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan dalam komunikasi digital.


Menghadapi ancaman tersebut, literasi digital menjadi benteng utama perlindungan masyarakat. Tanda-tanda deepfake dapat dikenali melalui gerakan wajah yang tidak alami, ketidaksinkronan suara dan gerak bibir, serta kualitas audio yang terdengar kaku. Langkah pencegahan sederhana, seperti mengajukan pertanyaan pribadi, menutup panggilan mencurigakan lalu menelepon balik, serta menunda transfer dana, sangat disarankan. Kehati-hatian kolektif menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak penipuan di era digital. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\