Women Care 2025 Soroti Rentannya Perempuan dalam Era Media Sosial

  • 10 Desember 2025
  • 2911

Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya berkolaborasi dengan Data Science Indonesia (DSI) Jawa Timur dan Pojok Statistik Telkom University Surabaya menghadirkan forum Women Care 2025 untuk membahas wellbeing perempuan di tengah meningkatnya tekanan digital dan penggunaan media sosial.


Women Care 2025 mengusung tema “Mindful & Meaningful: Nurturing Wellbeing in the Digital Era” berlangsung pada Sabtu (6/12/25) di Auditorium Lantai 6 Gedung R. Ing. Soekonjono Untag Surabaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan FTEIC, dosen FTEIC, mahasiswa Informatika Untag Surabaya, mahasiswa Telkom University Surabaya.


Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA, dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai ruang edukasi berbasis data. Ia menekankan pentingnya literasi data sebagai fondasi memahami persoalan sosial, termasuk isu kesehatan perempuan yang semakin kompleks di era digital.


“Data itu penting sekali. Dengan data kita bisa membuat macam-macam hal. Kualitas kebijakan dan evaluasi sangat bergantung pada kekuatan data.” ujarnya (6/12)


Materi pertama disampaikan oleh Regita Putri Permata, S.Stat., M.Stat., dosen Telkom University Surabaya sekaligus pengurus DSI Regional Jawa Timur. Ia memaparkan temuan penting mengenai kondisi kesehatan mental perempuan di era media sosial. 


“Perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tekanan digital, terutama karena fenomena upward comparison, yaitu kebiasaan membandingkan diri dengan standar kecantikan atau kehidupan ideal yang terlihat di media sosial. Perbandingan tanpa sadar ini dapat memicu stres, rasa tidak cukup baik, kelelahan mental, hingga menurunkan rasa percaya diri. Literasi digital harus berjalan seiring dengan kemampuan mengelola emosi agar perempuan tidak terjebak pada tuntutan dunia maya yang tidak realistis,” jelasnya (6/12)


Diskusi kemudian berlanjut pada perspektif kesehatan fisik bersama Drg. Vitria Dewi, M.Si., Direktur Utama Rumah Sakit Menur Surabaya. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental dan fisik perempuan tidak bisa dipisahkan karena tekanan emosional akibat media sosial dapat berdampak langsung pada tubuh.


“Banyak kasus menunjukkan bahwa stres digital mempengaruhi pola tidur, pola makan, hingga menurunkan produktivitas sehari-hari,” jelas Drg. Vitria 


Ia mengajak peserta mulai mengenali tanda-tanda kelelahan mental dan berhenti menormalisasi tekanan berlebih dari media sosial.


Sesi selanjutnya menghadirkan Ir. Imam Fahamsyah, S.T., M.T. Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Statistik perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur yang memaparkan upaya pemerintah dalam menjaga ruang digital tetap aman bagi perempuan. Ia menjelaskan bahwa meningkatnya tekanan mental akibat media sosial membuat pemerintah memperkuat program literasi digital.


“Sejumlah program Diskominfo Jatim yaitu Jatim Sejahtera, Jatim Cerdas, Jatim Berkah Amanah, dan Jatim Harmoni, yang semuanya berfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan teknologi. Adapun langkah Pemprov Jatim mencakup penguatan literasi digital, pemantauan ruang digital, serta menjaga ekosistem digital tetap sehat,” jelasnya


Momentum diskusi semakin menarik melalui sesi counselor talk bersama Ika Ayuni Nurmaulidiya, S.Psi., konselor dari Dear Astrid. Ia menguraikan alasan media sosial mudah memicu kecanduan. Menurutnya, notifikasi, likes, dan bentuk validasi online diproses otak sebagai “hadiah”, sehingga pengguna tanpa sadar menjadi bergantung.


“Perempuan lebih rentan terhadap upward comparison karena standar sosial terkait penampilan dan pencapaian yang lebih ketat,” imbuhnya


Tidak berhenti di situ, peserta juga diajak memahami dinamika perempuan di dunia kerja melalui sesi bersama Elzana ‘Ysyatu Mardhia, HR Specialist di perusahaan teknologi. Ia berbagi pengalaman tentang bagaimana tekanan digital terbawa ke lingkungan profesional. Banyak perempuan merasa perlu menampilkan citra tertentu di media sosial maupun tempat kerja, sehingga penting membangun ketahanan diri, manajemen waktu, dan kemampuan memilah informasi agar tidak mudah merasa tertinggal atau “kurang”.


Dari sisi teknologi, Dewi Nurfitriani Oktaviani, seorang Data Engineer, mendorong perempuan untuk berani terlibat lebih jauh dalam dunia digital. Menurutnya, penguasaan data tidak hanya membuka peluang karier, tetapi juga membantu perempuan memahami pola konsumsi digital agar tidak mudah terjebak tekanan media sosial.


Penyelenggaraan Women Care 2025 di Untag Surabaya membuka ruang dialog tentang bagaimana perempuan dapat tetap sehat dan tangguh menghadapi perubahan digital yang cepat. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri, Untag Surabaya memperkuat komitmennya dalam mendukung wellbeing perempuan dan membangun generasi muda yang lebih bijak serta sehat secara digital. (Gisela)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\