Menjelang peringatan kemerdekaan, suasana di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya terasa semakin meriah dengan berbagai perlombaan tradisional. Kegiatan ini tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.
Salah satu yang menarik perhatian adalah lomba bakiak. Permainan tradisional yang membutuhkan kekompakan ini mengharuskan peserta mengenakan terompah panjang dan berjalan serentak menuju garis finis. Di SMATAG Surabaya, lomba bakiak dibuat lebih seru dengan memadukannya bersama balap kelereng dan estafet sarung dalam satu rangkaian permainan.
Setiap tim terdiri dari enam pemain. Satu peserta menunggu di seberang lapangan, siap menerima aba-aba. Begitu peluit berbunyi, ia mengenakan sarung, menggigit sendok berisi kelereng, lalu berjalan menuju rekan-rekannya di sisi lain lapangan.
Setelah tiba, sarung diestafetkan kepada empat rekan berikutnya tanpa melepas genggaman tangan. Peserta terakhir kemudian meletakkan sarung di lantai, naik ke bakiak bersama dua rekannya, dan bertiga melangkah kompak hingga mencapai garis finis.
Sebagai penanggung jawab, Fatah selaku anggota OSIS menjelaskan alasan memilih permainan ini sebagai bagian dari rangkaian lomba.
“Karena dari permainan ini melatih kekompakan, membangun kreativitas dan juga solidaritas. Terutama bagi siswa baru yang mulai membangun pertemanan, lomba ini diharapkan dapat membantu membentuk chemistry mereka sejak duduk di bangku kelas 10,” jelas Fatah (12/8)
Sementara itu, Derby, siswa kelas XI 6 yang menjadi salah satu pemenang, membagikan pengalamannya.
“Tantangannya lebih ke orang pertama yang pakai sarung sama gigit sendok, itu kalau kelerengnya jatuh harus mengulang dari garis start, dan kalau jatuh pasti akan hilang momentum banyak banget, apalagi sendoknya tuh sendok plastik yang letoy gitu,” ungkapnya (12/8)
Derby juga menambahkan tips sukses dalam lomba bakiak.
“Lomba bakiak gampang kok, asalkan kita jalannya barengan, seirama, dan dengan kerjasama yang kompak gitu bisa cepet ke garis finis tanpa ada hambatan,” tutup Derby
Lomba ini diharapkan tak sekadar menjadi hiburan tahunan, tetapi juga sarana melestarikan permainan tradisional. Nilai solidaritas, kekompakan, dan rasa persaudaraan antar siswa SMATAG Surabaya pun dapat terus terjaga, sekaligus menumbuhkan semangat kemerdekaan di hati generasi muda. (Aldi)