Doktor Untag Soroti Ketimpangan Pendidikan Tinggi Indonesia

  • 18 Mei 2026
  • 16

Kesenjangan kualitas pendidikan tinggi antara wilayah Jawa dan luar Jawa menjadi perhatian dalam penelitian Dr. Nursahdi Saleh, SM., ST., M.Si. Melalui disertasinya, ia menyoroti kondisi kinerja dosen di Sulawesi Barat yang dinilai masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari infrastruktur hingga kebijakan pengembangan karier.


Gagasan tersebut dipaparkan Nursahdi dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Ekonomi (DIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya yang berlangsung pada 11 Mei 2026. Dalam sidang tersebut, ia berhasil mempertahankan disertasinya dan resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Ekonomi (DIE). Pencapaian ini menjadi istimewa karena Nursahdi mampu menuntaskan studi jenjang strata tiga (S3) hanya dalam waktu 2,8 tahun.


Penelitian yang diangkat Nursahdi bukan sekadar pemenuhan syarat akademik, tetapi juga respons terhadap realitas ketimpangan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menyoroti fenomena empiris mengenai kinerja dosen di wilayah Sulawesi Barat yang dinilai masih sangat standar dan minim dibandingkan dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa.


Menurutnya, terdapat kesenjangan infrastruktur dan kebijakan yang cukup lebar, di mana Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di luar Jawa, khususnya di Sulawesi Barat, masih berjuang melawan keterbatasan sumber daya serta status akreditasi yang belum optimal.


Dalam disertasinya yang berjudul "Pengaruh Karakter Diri, Kompetensi Diri, Integritas, dan Self-Leadership terhadap Kinerja Dosen dengan Pengembangan Karir sebagai Variabel Intervening dan Dimoderasi oleh Motivasi Diri pada Perguruan Tinggi Swasta di Provinsi Sulawesi Barat", Nursahdi melakukan bedah mendalam terhadap faktor-faktor internal yang memengaruhi kualitas pengajar. Berbekal data dari 300 responden, ia menemukan fakta unik yang memberikan kebaruan (novelty) bagi dunia manajemen SDM.


Salah satu temuan menariknya adalah bahwa variabel karakter diri dan integritas memang memiliki peran signifikan dalam memuluskan pengembangan karier dosen, namun secara mengejutkan keduanya tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja nyata di lapangan. Sebaliknya, variabel kompetensi diri dan kepemimpinan diri (self-leadership) justru menjadi kunci utama yang secara langsung mendongkrak performa akademik dosen.


Bagi Nursahdi, temuan yang tidak linier dengan dugaan teoritis ini justru merupakan sebuah kesuksesan ilmiah. Hal ini membuktikan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik hubungan variabel yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan.


Perjalanan meraih gelar doktor bagi seorang mahasiswa luar kota seperti Nursahdi tentu penuh dengan tantangan logistik dan manajemen waktu. Namun, ia mengaku bahwa dukungan dari lingkungan akademik Untag Surabaya menjadi faktor penentu kelancaran studinya.


Beliau mengapresiasi peran para dosen pembimbing yang sangat telaten dalam mendampingi proses penyusunan disertasi, bahkan ketika dirinya harus beberapa kali melakukan perubahan judul hingga mencapai bentuk penelitian yang benar-benar tajam dan relevan.


"Dukungan dan support dari dosen-dosen di Untag Surabaya sangat luar biasa. Semua memberikan bantuan dengan ramah dan penuh senyuman, hal itu yang membuat saya merasa nyaman meskipun kuliah penuh dengan tantangan," (11/5)


Sebagai penutup Dr. Nursahdi Saleh menitipkan pesan inspiratif bagi para mahasiswa yang sedang berjuang meraih gelar serupa. Beliau menekankan bahwa kunci utama kesuksesan terletak pada regulasi diri dan motivasi yang kuat dari dalam.


"Harus memiliki motivasi diri yang baik sehingga bisa menyelesaikan studi dengan lebih nyaman dan fleksibel," tutupnya (Husni)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\