Kehadiran Hanako Suzuki, Ph.D., dosen dari Ritsumeikan University, Jepang, membawa energi baru bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Untag Surabaya. Dalam rangka Dies Natalis ke-40, Suzuki memberikan pemaparan yang menjembatani psikologi global dan lokal, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk memahami psikologi lintas budaya.
Kegiatan bertajuk “Global Minds, Local Hearts: Celebrating 40 Years of Excellence in Psychology” berlangsung pada Jumat, 7 November 2025, di Auditorium Soeparman Hadipranoto, Lt.9 Gedung Graha Wiyata, dan diikuti lebih dari 400 peserta, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tamu undangan. Sejak awal hingga akhir, suasana kelas begitu hidup, menandai antusiasme peserta untuk memperluas wawasan psikologi dari perspektif internasional.
Menyadari kesempatan langka ini, Dr. Mamang Effendy, S.Pd., M.Psi., Ketua Program Studi (Kaprodi) Psikologi Untag Surabaya, membuka sambutannya dengan ajakan kepada mahasiswa untuk memaksimalkan momen belajar dari akademisi internasional.
“Ini adalah kesempatan luar biasa bagi kita semua untuk belajar langsung dari Miss Hanako Suzuki. Mari manfaatkan momen ini dengan aktif bertanya dan berdiskusi agar kita tidak hanya berkembang di tingkat nasional, tetapi juga berkontribusi pada dunia psikologi global,” ujar Dr. Mamang (7/11).
Turut hadir Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., ???., ???., yang dalam sambutannya menekankan peran psikologi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Psikologi bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk membantu orang lain. Fakultas Psikologi Untag Surabaya telah menunjukkan kemajuan luar biasa, dan saya bangga dengan semangat akademiknya,” tegasnya.
Hanako Suzuki, yang juga anggota International Union of Psychological Science (IUPsyS), memaparkan topik Community and Sociocultural Approach to Solve Psychological Problems in Global Perspective. Ia menyoroti dominasi pendekatan Barat dalam psikologi, padahal 86% populasi dunia berasal dari negara non-Barat. Suzuki menekankan pentingnya menyesuaikan pendekatan psikologi dengan konteks budaya dan sosial masing-masing negara.
“Psikologi tidak boleh terjebak pada obsesi mencari satu kebenaran universal. Kita harus memahami manusia berdasarkan konteks sosial, budaya, ekonomi, dan sejarahnya,” ungkapnya.
Selain dikenal sebagai peneliti di bidang counseling psychology dan global psychology dengan fokus pada kesehatan mental, keberagaman budaya, serta pendekatan dekolonisasi ilmu psikologi, Suzuki juga membagikan hasil penelitian dari SEL International Research Network (SEL-IRN) yang melibatkan 19 negara. Proyek ini meneliti bagaimana Social and Emotional Learning (SEL) diterapkan di berbagai budaya, termasuk Jepang, yang menekankan nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial dalam pendidikan.
Suzuki memperkenalkan konsep Cultural Translation of SEL, sebuah upaya menerjemahkan pembelajaran emosional dan sosial agar sesuai konteks budaya lokal tanpa kehilangan nilai universalnya. Ia menegaskan, dialog terbuka antarbudaya dan pemberian ruang bagi suara yang sering tak terdengar merupakan kunci penting dalam pengembangan psikologi global yang inklusif.
Lebih dari sekadar teori, Suzuki mendorong mahasiswa berpikir inklusif dan membuka ruang dialog lintas budaya. Sesi tanya jawab yang hangat di akhir acara menampilkan antusiasme mahasiswa, mulai dari pertanyaan penerapan SEL hingga tantangan psikologi multikultural di Indonesia.
Guest Lecture ini menjadi bukti komitmen Fakultas Psikologi Untag Surabaya dalam mendorong mahasiswanya berpikir global namun tetap berakar pada nilai lokal. Perayaan 40 tahun fakultas bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menegaskan visi untuk bersaing di kancah internasional tanpa meninggalkan budaya Indonesia. (Boby)