Fenomena Adulting Gen Z Merasa Cepat Tua di Usia Muda

  • 19 September 2025
  • 3101

Di usia yang seharusnya masih penuh eksplorasi, banyak Gen Z justru sudah akrab dengan istilah adulting. Obrolan tentang cicilan, burnout kerja, hingga rasa “tua” di usia 20-an ramai berseliweran di media sosial. Fenomena ini memberi kesan seakan generasi Z lebih cepat dewasa dibanding generasi sebelumnya.


Namun, para ahli menilai apa yang dialami Gen Z sebenarnya bukanlah hal baru. Generasi sebelumnya juga melalui masa transisi penuh kebingungan, hanya saja cara mereka mengekspresikannya berbeda.


Melansir CNNIndonesia.com, Psikolog dari Tabula Rasa, Arnold Lukito, menjelaskan bahwa remaja saat ini cenderung lebih cepat merasa dewasa karena terbiasa melihat, membandingkan, dan meniru gaya hidup orang dewasa secara terus-menerus. Proses ini dikenal sebagai observational learning.


Paparan konten “dewasa” di media sosial dinilai berhubungan dengan tingkat kematangan yang dirasakan lebih tinggi. Akses informasi yang deras membuat Gen Z lebih cepat terpapar isu finansial, politik, hingga relasi sejak remaja.


Secara biologis, perkembangan otak manusia, khususnya prefrontal cortex, baru matang penuh di usia sekitar 25 tahun. Meski demikian, Arnold menilai stimulasi kognitif yang dialami Gen Z jauh lebih intens dibanding generasi sebelumnya. Paparan informasi yang masif membuat mereka sering kali terlihat lebih cepat matang, meski secara neurologis proses perkembangan otak tetap sama.


Fenomena adulting sendiri disebut bukan hal baru. Istilah ini lebih merupakan produk budaya populer ketimbang konsep psikologi perkembangan. Gen Z hanya lebih ekspresif dalam mengeluhkan tanggung jawab hidup. Milenial juga mengalami beban serupa di usia 20-an, tetapi mereka belum memiliki istilah gaul seperti adulting untuk menamainya.


Dengan kata lain, perasaan “cepat tua” bisa jadi hanya ilusi media sosial. Algoritma memperbesar wacana tertentu, sehingga semakin sering seseorang melihat konten adulting is hard, semakin kuat pula internalisasi bahwa ia sudah dewasa atau bahkan tua.


Arnold juga menekankan bahwa apa yang dialami Gen Z sejatinya pernah terjadi pada generasi milenial. Milenial yang kini berusia 30–40 tahun kerap memandang masa 20-an mereka penuh kebebasan, padahal riset pada masanya juga melaporkan keresahan yang sama. Fenomena ini berulang di setiap generasi muda saat memasuki transisi kedewasaan.


Artinya, Gen Z bukan benar-benar lebih cepat tua, melainkan lebih terlihat karena memiliki bahasa, media, dan ruang publik untuk membicarakan hal tersebut. (Eka)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\