Fenomena hipogami, di mana perempuan memilih pasangan dengan status sosial, pendidikan, atau ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dirinya, belakangan banyak dibicarakan di masyarakat. Sebagian menilai ini sebagai bentuk “turun kelas”, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai konsekuensi logis dari perubahan zaman.
Hipogami bukanlah sesuatu yang bisa dilabeli baik atau buruk. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai realitas sosial yang tidak terelakkan. Budaya patriarki memang masih melekat, baik di Barat maupun di Indonesia, di mana sistem sosial cenderung menguntungkan laki-laki. Namun, perubahan sosial, akses informasi melalui media digital, dan meningkatnya pendidikan membuat relasi gender kini bergerak ke arah yang lebih setara.
Perubahan Peran Gender di Ruang Publik dan Domestik
Dulu, urusan rumah tangga atau biasa disebut urusan domestik, sepenuhnya diserahkan pada perempuan, sementara urusan nafkah menjadi tanggung jawab laki-laki. Kini, batas itu semakin kabur. Laki-laki berkontribusi dalam pengasuhan, sementara perempuan juga aktif bekerja atau berwirausaha, bahkan dalam bentuk sederhana seperti menjadi content creator atau berjualan daring. Semua itu tetap menjadi kontribusi penting bagi perekonomian keluarga.
Dengan realitas ini, wajar jika relasi perkawinan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh aspek kuantitatif seperti penghasilan atau tingkat pendidikan. Relasi yang sehat lebih ditentukan oleh hal-hal non-kuantitatif, misalnya kepribadian, keimanan, empati, dan kemampuan bekerja sama.
Dari Maskulinitas Tradisional ke Nilai Feminin
Budaya patriarki lama mengajarkan bahwa maskulinitas identik dengan kekerasan, ketegasan, dan dominasi. Anak-anak dididik dengan pola asuh keras, istri seringkali diperlakukan sebagai subordinat. Namun, masyarakat kini semakin menyadari bahwa pendekatan maskulin semacam ini tidak efektif, bahkan berdampak buruk pada masa depan.
Sebaliknya, nilai-nilai feminin seperti empati, simpati, kesabaran, dan perhatian terhadap kesehatan mental mulai dianggap penting. Kesadaran inilah yang membuat banyak perempuan lebih memilih pasangan dengan karakter empatik dan suportif, meskipun secara status ekonomi atau akademis berada di bawah mereka.
Male Ego dan Tantangan dalam Relasi Hipogami
Namun, hipogami tidak lepas dari tantangan. Budaya patriarki telah menanamkan sejak kecil bahwa laki-laki harus menjadi pemimpin keluarga dan penopang ekonomi utama. Ketika realitas tidak sesuai dengan doktrin ini, male ego muncul. Rasa terancam karena posisi sosial atau ekonomi yang lebih rendah dari pasangan dapat memunculkan bentuk-bentuk toxic masculinity.
Dalam konteks ini, perempuan yang berada di posisi hipogami sering kali tetap berusaha menjaga perasaan pasangannya agar tetap merasa “laki-laki” dan “pemimpin” dalam keluarga, meskipun dalam kenyataan aspek kuantitatif justru menunjukkan sebaliknya. Inilah dinamika kompleks yang menjadikan hipogami sebagai fenomena menarik sekaligus penuh tantangan.
Mengapa Perempuan Dianggap Turun Kelas?
Permasalahan lain adalah stigma sosial. Jika perempuan menikah dengan laki-laki yang status sosial atau ekonominya lebih rendah, ia sering dianggap “turun kelas.” Stigma ini lahir dari budaya yang menilai laki-laki semata-mata dari aspek kuantitatif, misalnya gaji, harta, dan jabatan. Sementara perempuan didoktrin untuk mencari pasangan “mapan” agar mendapatkan manfaat dari status tersebut.
Padahal, logika “turun kelas” ini keliru. Banyak perempuan justru memilih pasangan dengan status lebih rendah karena ingin dihargai sebagai pribadi, bukan hanya sebagai pelengkap domestik. Mereka ingin didengar, berkontribusi, dan tetap memiliki suara dalam rumah tangga.
Menuju Kultur Baru dalam Relasi
Hipogami pada akhirnya bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari perubahan sosial yang lebih luas. Dunia kerja kini dipenuhi oleh perempuan berprestasi. Data bahkan menunjukkan bahwa secara akademis, perempuan sering kali lebih unggul dibanding laki-laki. Kondisi ini otomatis memperbesar peluang terjadinya hipogami.
Saya pernah mengalami hipogami dalam kehidupan pribadi, dan menurut saya, fenomena ini akan terus berkembang. Memang akan ada konflik, terutama di masyarakat yang masih kuat nilai patriarkinya. Tetapi pada saat yang sama, hipogami juga membuka jalan bagi redefinisi baru mengenai pernikahan, keluarga, dan relasi gender.
Hipogami adalah fenomena yang lahir dari perubahan zaman. Patriarki yang mengikat kita sejak lama sudah tidak lagi relevan dengan realitas masyarakat modern. Perempuan kini semakin berpendidikan, mandiri secara ekonomi, dan sadar akan hak-haknya. Mereka tidak lagi mencari pasangan hanya karena status, tetapi karena kualitas relasi.
Apakah hipogami akan selalu ideal? Tidak. Fenomena ini juga memiliki tantangan, terutama dalam mengelola ego laki-laki yang masih dibentuk oleh patriarki klasik. Namun, jika masyarakat semakin terbuka terhadap nilai-nilai kesetaraan, maka hipogami bisa menjadi pintu masuk menuju keluarga yang lebih sehat, egaliter, dan berlandaskan cinta yang sejati. (Boby)
*) Irmasanthi Danadharta, S.Hub.Int., MA, Ketua Pusat Layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PL-PPKPT) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya