Dalam perjalanan satu tahun kehidupan selalu ada pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri dari seluruh perbuatan yang dilakukan, berapa banyak yang benar benar merupakan perbuatan baik.
Pertanyaan lain kemudian muncul, berapa banyak kebaikan yang seharusnya bisa dilakukan tetapi tidak terlaksana karena keterbatasan, serta berapa banyak kesalahan yang terjadi tanpa disadari, bahkan tanpa kesengajaan?
Perenungan ini membawa pada kesadaran untuk memohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, sekaligus atas kebaikan yang tidak sempat diwujudkan, serta merencanakan langkah yang lebih baik ke depan. Di titik ini diperlukan jeda untuk beristirahat sejenak, melakukan penyucian diri yang dimaknai sebagai brata penyepian.
Makna Catur Brata
Catur Brata merupakan empat prinsip utama pengendalian diri dalam perayaan Nyepi yang meliputi Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.
Amati karya menghadirkan satu hari tanpa pekerjaan setelah kurang lebih 365 hari manusia menjalani berbagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik dalam hubungan vertikal kepada Tuhan maupun hubungan horizontal kepada sesama. Jeda ini menjadi seperti koma dalam perjalanan panjang kehidupan, memberi ruang untuk mengisi ulang energi agar keseimbangan dengan Tuhan, sesama, dan alam tetap terjaga.
Amati geni mengajak untuk tidak menyalakan api yang dimaknai sebagai energi, karena seluruh aktivitas bergantung pada energi tersebut. Ketika tidak terkendali, energi dapat membawa dampak yang tidak baik, sehingga diperlukan jeda untuk menghentikan penggunaannya sebagai bentuk pengendalian diri, bukan untuk menghilangkan nafsu, tetapi menstabilkan diri agar pikiran, ucapan, dan tindakan tetap terarah.
Amati lelungan membawa manusia berhenti dari bepergian setelah selama satu tahun menikmati berbagai perjalanan dan hiburan. Ruang ini memberi kesempatan bagi jiwa untuk meninjau kembali apa yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya.
Amati lelanguan menjauhkan diri dari kesenangan agar pikiran dan jiwa berada pada posisi yang lebih jernih. Dalam kondisi ini, kontemplasi dapat berlangsung lebih utuh dan menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap diri sendiri.
Upawasa Untuk Pengendalian Diri dan Kontemplasi
Selain itu terdapat upawasa sebagai praktik mengendalikan makan dan minum selama 24 jam, serta monabrata sebagai upaya mengendalikan ucapan dalam satu hari penuh.
Seluruh rangkaian ini memberi ruang bagi pikiran dan jiwa untuk melakukan kontemplasi, sehingga kehidupan tidak berjalan sekadar sebagai rutinitas, tetapi memiliki makna yang disadari.
Menyepi di Tengah Dunia Modern
Menjalankan konsep ini di era modern pada akhirnya kembali pada diri sendiri, karena manusia terikat oleh ruang dan waktu, sehingga tidak mungkin memaksakan lingkungan sekitar untuk ikut menyepi seperti yang terjadi di Bali.
Di luar Bali, kehidupan tetap berjalan, sehingga yang perlu dilakukan adalah menghadirkan keheningan di tengah keramaian. Di situlah proses pendewasaan emosional dan penguatan spiritual berlangsung tanpa mengganggu orang lain.
Hubungan dengan sesama tetap berjalan dengan baik, tetangga tidak harus mematikan lampu karena penyepian merupakan relasi antara diri dengan Tuhan dan alam. Nyepi dapat dijalankan di mana saja selama mampu menghadirkan ketenangan batin, bahkan ketika orang lain tetap beraktivitas, pengendalian diri tetap bisa dilakukan.
Tahapan dalam Nyepi
Pertama, Melasti dilakukan sebagai proses penyucian diri secara fisik dengan mengambil air kehidupan ke laut sebagai simbol pembersihan sarana material yang digunakan dalam kehidupan.
Kedua, Pengrupukan menjadi upaya menyeimbangkan kekuatan alam melalui representasi buta kala, bukan untuk bersekutu dengan kekuatan negatif, tetapi untuk menetralkan energi negatif agar tercipta keseimbangan.
Ketiga, Nyepi merupakan inti dari seluruh rangkaian dengan meminimalkan penggunaan energi, sehingga alam seolah memiliki ruang untuk bernapas lebih lega sekaligus menetralkan kekuatan negatif.
Keempat, Ngembak Geni menjadi penutup melalui silaturahmi, saling memaafkan, dan saling mendukung agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Ogoh Ogoh dan Keseimbangan Alam
Dalam diri manusia selalu terdapat dua kekuatan, yaitu positif dan negatif, yang tercermin dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pada saat Pengrupukan hadir ogoh ogoh yang kini juga dijumpai di berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, dan Malang, meskipun dengan skala berbeda.
Ogoh ogoh merupakan representasi kekuatan negatif atau buta kala sebagai bagian dari upaya menetralkan energi tersebut melalui simbol dan persembahan kepada alam, sekaligus menjadi ruang ekspresi yang mengembalikan keseimbangan. Di Bali, ogoh ogoh bahkan dikreasikan dan dilombakan tanpa kehilangan makna filosofisnya.
Nyepi dan Generasi Modern
Dalam konteks modern, penonaktifan akses internet di Bali saat Nyepi dapat menjadi sarana pembelajaran, terutama bagi generasi muda. Pengendalian diri pada dasarnya perlu dilatih, bahkan dalam kondisi tertentu perlu dipaksakan, karena kesenangan tanpa batas tidak selalu menghadirkan ketenangan batin.
Generasi muda yang inovatif tetap perlu diarahkan agar mampu berkontemplasi, dan peran orang tua menjadi penting dimulai dari lingkungan rumah hingga pergaulan. Pada waktu tertentu, manusia perlu belajar meninggalkan kesenangan dan membatasi distraksi, termasuk internet, sebagai bagian dari latihan pengendalian diri.
Dalam perspektif lain, hal ini dapat diperdebatkan, terutama bagi mereka yang tidak merayakan Nyepi, namun dalam konsep ruang dan waktu manusia diajak bergeser sejenak selama 24 jam dari rutinitas yang telah berlangsung sejak lama.
Kembali ke Diri Sendiri
Pengalaman menjalankan Nyepi di berbagai tempat menunjukkan bahwa esensinya tidak terletak pada kondisi lingkungan, melainkan pada kesiapan diri.
Keramaian di luar bukan penghalang karena fokus utama adalah menata batin dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Dengan kesiapan tersebut, proses menyepi dapat dijalani dalam kondisi apa pun tanpa bergantung pada situasi sekitar.
Pada akhirnya, Nyepi menjadi ruang untuk mempertemukan kembali keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik.
Dalam konteks tertentu, Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada tahun 2026 juga dapat beririsan dengan perayaan lain seperti Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026 yang sama sama mengajarkan pengendalian diri dan saling memaafkan, sehingga setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup.
*) Dr. I. B. Ketut Bayangkara, S.E., M.M. Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Reporter