Kemerdekaan Bukan Hanya Tanggal Merah, Tapi Tanggung Jawab Generasi Muda

  • 21 Agustus 2025
  • 3124

Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia mengusung tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang dengan mudah, ada darah, air mata, dan pengorbanan di baliknya.


Bagi saya, momen ini lebih dari sekadar hari besar atau tanggal merah di kalender. Kemerdekaan adalah warisan yang lahir dari perjuangan. Tugas saya adalah menanamkan kesadaran ini kepada siswa-siswi, bahwa apa yang mereka nikmati hari ini merupakan hasil dari pengorbanan para pahlawan.


Perjuangan Masa Kini: Belajar dan Menjaga Sikap


Saya selalu mengatakan kepada siswa, perjuangan mereka sekarang bukan lagi mengangkat senjata, tetapi belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga sikap, dan meraih masa depan. Inilah bentuk perjuangan versi baru.


Pesan Bung Karno, Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), selalu saya tanamkan agar mereka tidak kehilangan akar. Sebab, jika lupa sejarah, generasi muda akan mudah diadu domba, terpengaruh hoaks, dan kehilangan arah.


Mengapa Sejarah Tetap Penting?


Banyak siswa bertanya, “Bu, untuk apa belajar sejarah? Tidak ada hubungannya dengan masa depan.” Jawaban saya, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin kehidupan. 


Dari sejarah, kita belajar tentang persatuan, bagaimana bangsa ini yang dulu tercerai-berai menjadi kerajaan-kerajaan kecil, akhirnya bersatu melawan penjajah. Dari sejarah pula kita memahami taktik adu domba yang digunakan penjajah, sehingga kita tidak mudah terpecah belah lagi.


Sejarah juga mengajarkan kita mengenal jati diri. Tanpa sejarah, kita mungkin tidak memahami alasan di balik perbedaan agama dan budaya di Indonesia. Karena itu, saya selalu menekankan kepada siswa siswi jangan bertengkar karena perbedaan agama. Semua agama di Indonesia merupakan hasil proses sejarah panjang, bukan sesuatu yang datang begitu saja. Dengan memahaminya, kita belajar untuk saling menghargai.


Tantangan Era Digital: Lawan Penjajahan Informasi


Kini, penjajahan tidak lagi berbentuk fisik, melainkan informasi. Hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian menjadi senjata baru yang mengancam persatuan. Karena itu, saya menekankan kepada siswa siswi untuk tidak mudah percaya berita di media sosial tanpa memeriksa kebenarannya.


Perbedaan antara orang yang sekolah dan tidak sekolah bukan terletak pada gelar, tetapi pada kemampuan berpikir kritis. Pendidikan bukan hanya mengajarkan kita membaca, tetapi juga menyeleksi informasi. Karena itu, generasi muda harus bijak. Jangan sampai menjadi korban “penjajahan digital” yang memecah belah persatuan bangsa.


Membangun Karakter di SMATAG Surabaya


Harapan saya, anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat. Di SMATAG Surabaya, kami menanamkan nilai toleransi. Setiap Rabu, siswa Muslim membaca Juz ‘Amma, sedangkan yang non-Muslim membaca kitab sucinya masing-masing. Pada Kamis, pembacaan Asma’ul Husna juga berjalan dengan penuh saling menghormati.


Saya percaya, jika nilai ini terus dijaga, maka Indonesia tidak hanya akan maju secara teknologi, tetapi juga menjadi bangsa yang beradab.


Perjuangan kalian hari ini adalah belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persatuan, dan menolak pengaruh negatif. Jangan mudah percaya informasi yang memecah belah, jangan malas belajar, dan jangan lupa sejarah, karena sejarah adalah guru yang tak pernah usang. Kemerdekaan adalah amanah. Amanah itu sekarang ada di tangan kalian. Mari kita jaga bersama, bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan persatuan.


*) Fuji Rahayu, S.Pd, Guru Sejarah SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\