Kerja Remote dari Cafe: Produktif atau Cuma Estetik?

  • 29 September 2025
  • 1085

Bekerja dari kafe kini menjadi pemandangan umum. Mahasiswa mengerjakan skripsi, freelancer, hingga karyawan remote betah berjam-jam di coffee shop. Namun muncul pertanyaan, apakah ini benar-benar meningkatkan produktivitas atau hanya gaya hidup estetik?




Bagi sebagian orang, perpindahan lokasi kerja ke kafe membantu reset mental, memutus kejenuhan, dan memantik kreativitas. Suasana kafe dengan aroma kopi, interior estetik, dan riuh rendah percakapan kerap dianggap mendukung fokus, terutama untuk pekerjaan kreatif.




Namun, ada sisi lain yang sering terlupakan. Wi-Fi tidak stabil, colokan terbatas, kebisingan pada jam ramai, kursi yang tidak ergonomis, hingga biaya nongkrong yang menumpuk dapat menjadi kendala. Alih-alih produktif, sebagian orang justru terdistraksi.




Meski begitu, kafe tetap bisa menjadi opsi strategis. Suasana baru cocok untuk menyelesaikan tugas ringan, brainstorming, atau pertemuan informal. Sebaliknya, pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi lebih tepat dilakukan di rumah, perpustakaan, atau coworking space.






Intinya, produktivitas tidak ditentukan oleh tempat semata, melainkan manajemen waktu, teknik fokus seperti Pomodoro, serta kejelasan tujuan pribadi. Mengombinasikan kafe sebagai “booster” suasana dengan ruang kerja tenang sebagai “basecamp” bisa menjaga ritme kerja tetap seimbang. (Ivan)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\