Tema Hari Pers Nasional 2026, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, memiliki relevansi kuat jika ditarik benang merah ke dunia pendidikan. Kampus dan pers sejatinya memiliki misi yang serupa, yakni sama-sama memproduksi pengetahuan untuk publik. Pers yang sehat seharusnya membantu dunia pendidikan membangun ekosistem belajar yang kritis, bukan sekadar informatif.
Contoh konkret dapat dilihat pada isu-isu publik seperti kenaikan UKT, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), hingga dinamika politik yang dapat dikritisi oleh mahasiswa dan pelajar. Ketika pers bekerja secara sehat dengan menghadirkan data, suara mahasiswa, dosen, serta pembuat kebijakan sesuai realitas yang ada, mahasiswa dapat belajar bahwa realitas sosial bersifat kompleks dan tidak selalu hitam-putih.
Sebaliknya, jika pers tidak sehat dan hanya mengejar sensasi atau narasi konflik, pendidikan justru terdorong ke arah polarisasi. Tema “ekonomi berdaulat” juga penting bagi dunia pendidikan karena media yang rapuh secara ekonomi akan kesulitan menjaga idealisme. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan pemberitaan yang berpihak pada institusi atau golongan tertentu tanpa berpijak pada realitas. Kampus perlu menyadari bahwa literasi media saat ini bukan hanya soal membaca berita, tetapi memahami relasi antara kekuasaan, modal, dan produksi informasi. Inilah pembelajaran kontekstual yang relevan bagi mahasiswa hari ini.
Peran Pers Sehat di Tengah Arus Disinformasi Digital
Di era digital, hoaks tidak selalu hadir dalam bentuk berita palsu mentah. Banyak informasi tampil rapi dengan judul meyakinkan, bahkan mengutip potongan data. Dalam situasi ini, peran pers yang sehat bukan sekadar memberi klarifikasi, tetapi menghadirkan konteks.
Fenomena tersebut tampak jelas dalam momentum pemilu maupun isu kesehatan publik. Konten viral di media sosial kerap memuat potongan fakta yang benar, tetapi menyesatkan karena dilepaskan dari konteksnya. Pers yang sehat perlu menjelaskan sumber data, kepentingan yang bermain di baliknya, serta dampaknya bagi publik, misalnya dalam isu vaksin atau kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Media yang sehat tidak cukup hanya menampilkan pro dan kontra, tetapi juga menjelaskan basis ilmiah serta risiko disinformasi. Hal ini penting mengingat publik kerap memperoleh informasi lebih dulu dari TikTok atau WhatsApp dibanding media arus utama. Dalam konteks ini, pers seharusnya hadir sebagai ruang verifikasi, bukan sekadar kompetitor media sosial.
Tantangan Pers Indonesia: Algoritma, Ekonomi, dan Independensi
Tantangan terbesar pers Indonesia di era digital terletak pada tekanan algoritma dan logika ekonomi platform. Banyak redaksi, secara tidak langsung, bekerja mengikuti tuntutan algoritma, judul harus “klikable”, isu harus trending, dan berita harus cepat. Akibatnya, isu selebritas atau konflik personal kerap mendapat porsi besar karena menghasilkan trafik tinggi, sementara isu struktural seperti ketimpangan sosial atau kebijakan publik sering kalah perhatian.
Di sisi lain, kepemilikan media di Indonesia yang masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu dengan afiliasi politik atau bisnis membuat independensi pers kerap diuji, terutama menjelang momentum politik penting. Keberpihakan dapat terlihat melalui pemilihan sudut pandang atau penghilangan isu tertentu.
Menjaga pers tetap sehat menuntut keberanian untuk mengakui tantangan tersebut sekaligus mencari model bisnis yang lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan etika jurnalistik.
Mahasiswa Harus Jadi Content Thinker
Bagi mahasiswa khususnya, pembelajaran tidak cukup berhenti pada kemampuan menjadi content creator, tetapi perlu berkembang menjadi content thinker. Dunia jurnalistik membutuhkan individu yang peka terhadap isu, memiliki empati, serta berani mempertanyakan “mengapa” dan “siapa yang diuntungkan”.
Dalam meliput fenomena viral, baik joget TikTok, kasus kriminal, maupun konflik publik, mahasiswa perlu melihat lapisan sosial di balik permukaan peristiwa, bukan sekadar mengejar viralitas. Menjadi jurnalis yang sehat merupakan proses panjang. Karya jurnalistik mungkin tidak selalu viral atau populer, tetapi dapat memberi dampak nyata bagi publik.
Karena itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan etika, kemampuan verifikasi, kecakapan membaca data, serta pemahaman terhadap realitas industri media. Pers yang sehat akan lahir dari generasi jurnalis yang tidak mudah terjebak pada praktik klikbait dan tetap berpihak pada kepentingan publik.
*) Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita, S.I.Kom., M.Med.Kom, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Reporter