Radio belum benar-benar ditinggalkan. Hal itu dibuktikan mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya lewat Boxer 9.0 (Box Announcer) 2025, ajang bertema Hawaii vibes yang memberi ruang ekspresi generasi muda di dunia broadcasting.
Boxer 9.0 merupakan program tahunan Box Radio, divisi mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya yang mewadahi minat dan bakat di bidang penyiaran. Ajang ini tak hanya menjadi sarana menyalurkan kreativitas dan minat broadcasting, tetapi juga upaya mempertahankan eksistensi radio di tengah arus media digital.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak Juli dengan roadshow ke berbagai SMP, SMA, dan SMK untuk memperkenalkan dunia penyiaran sekaligus menjaring peserta. Setelah itu, peserta mengikuti babak penyisihan digital lewat TikTok dengan menandai akun resmi @boxradio17. Puluhan karya masuk, lalu diseleksi hingga terpilih 10 finalis untuk tampil langsung di panggung final.
Final Boxer 9.0 digelar di Loka Coffee Surabaya pada Sabtu, 20 September 2025. Pemilihan lokasi di luar kampus memberi nuansa baru yang lebih terbuka bagi publik sekaligus memperkuat interaksi mahasiswa dengan masyarakat. Suasana santai namun penuh energi diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta maupun penonton.
Pada babak final, peserta mendapat tantangan membuat naskah spontan dari kata acak yang diundi, lalu menyiarkannya layaknya penyiar radio. Proses ini menguji improvisasi, kreativitas, serta kemampuan komunikasi di hadapan juri dan penonton. Penilaian mencakup vokal dan intonasi, improvisasi, keluwesan, hingga gestur dan kepercayaan diri.
Selain kompetisi announcer, acara juga diisi talkshow inspiratif bersama Diana Narulita, Head of Producer & Event Promotion MLT8 FM, serta Habib Syahrul Asrori, public speaker muda. Keduanya berbagi wawasan seputar dunia penyiaran, keterampilan berbicara, hingga peluang karier komunikasi di era digital.
Ketua pelaksana Boxer 9.0, Alda Nur Aufa Dania, menyebutkan bahwa tantangan terbesar penyelenggaraan kali ini adalah menarik minat peserta.
“Sekarang dunia radio sudah dianggap kurang relevan di kalangan anak muda. Karena itu kami melakukan roadshow langsung agar peserta tahu bahwa penyiaran tetap penting dan bisa jadi bekal di masa depan,” jelasnya (20/9)
Melalui Boxer 9.0, mahasiswa tidak hanya belajar teori komunikasi di kelas, tetapi juga mengasah keterampilan siaran, manajemen acara, hingga berkolaborasi lintas tim. Lebih dari sekadar lomba, ajang ini membuktikan bahwa radio tetap hidup dengan wajah baru, kreatif, interaktif, dan relevan bagi generasi muda. (Gisela)