Pernah terjaga total saat main ponsel, tapi langsung ngantuk begitu duduk di kelas? Ternyata, itu bukan sekadar kurang tidur. Studi Stanford (2023) menemukan bahwa otak remaja lebih sensitif terhadap rangsangan emosional dan sosial. Karena itu, notifikasi terasa “lebih hidup” daripada papan tulis. Fokus baru muncul ketika seseorang merasa terlibat dan menganggap belajar itu bermakna, bukan hanya karena lamanya waktu belajar.

Menurut Cognitive Motivation Journal (2022), otak bekerja paling aktif ketika ada pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu. Sebaliknya, pelajaran yang terasa tidak relevan membuat sistem “reward” di otak mati, dan fokus ikut menghilang. Solusinya sederhana: ubah pola pikir dari “harus tahu” menjadi “pengen tahu”. Bukan “hafalkan rumus,” tetapi “kenapa pesawat bisa terbang?”

Penelitian APA Youth Learning Behavior Study (2023) juga menunjukkan bahwa fokus belajar meningkat saat otak merasa terhubung secara emosional. Mengaitkan pelajaran dengan dunia nyata bisa membantu, misalnya memahami matematika lewat bisnis kecil atau belajar bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan idola luar negeri. Hubungan kontekstual ini memperkuat motivasi intrinsik yang membuat belajar terasa lebih hidup.

Di era digital, banyak siswa memanfaatkan AI seperti ChatGPT untuk mengerjakan tugas. Namun OECD (2023) mengingatkan bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat bantu, bukan “otak cadangan”. Gunakan AI sebagai sparring partner untuk melatih berpikir kritis, bukan sekadar menyalin jawaban. Dengan cara ini, AI bisa memperkuat logika dan pemahaman, bukan menggantikannya.

Sementara itu, studi Neuroscience of Motivation (2021) menunjukkan rasa ingin tahu mampu meningkatkan fokus hingga 40%. Jadi, kunci belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi memahami maknanya. Saat kamu tahu “kenapa”-nya, fokus tidak perlu dicari, ia datang sendiri. (Ivan)