Perkembangan teknologi, khususnya di bidang pengolahan citra digital, telah membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Teknologi ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan memiliki tanggung jawab sosial dengan menumbuhkan nasionalisme, memperkuat karakter bangsa, serta menghadirkan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pengolahan Citra Digital dan Aplikasinya
Secara sederhana, pengolahan citra digital dilakukan untuk memperbaiki kualitas gambar. Mulai dari mengatur warna agar lebih jelas, menajamkan detail, hingga menyesuaikan bentuk atau posisi gambar sesuai kebutuhan. Teknologi ini kini banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang.
Di dunia kesehatan, misalnya, pengolahan citra digunakan pada fingerprint, pola retina, suara, hingga geometri tangan untuk identifikasi medis maupun otentikasi pasien. Sementara di bidang keamanan, teknologi ini membantu pengawasan perbatasan, pemantauan hutan dengan citra satelit, deteksi ancaman lewat sistem pengenalan wajah dan gerakan, bahkan perlindungan data digital.
Kontribusinya begitu besar bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, teknologi ini juga menyimpan potensi ancaman. Inilah paradoks abadi: ia mampu membangun, tetapi juga berisiko meruntuhkan.
Pendidikan Tinggi dan Konsep PATRIOT
Di sinilah relevansi konsep PATRIOT yang dikembangkan Untag Surabaya. PATRIOT menekankan pendidikan yang inklusif dan bermutu, adaptif terhadap perubahan digital dan global, serta menjaga kepercayaan dalam tata kelola. Konsep ini juga mendorong respons cepat terhadap kebutuhan nasional maupun internasional, mengintegrasikan nilai patriotisme dan karakter bangsa, berorientasi pada keunggulan teknologi dan sosial humaniora, serta menempatkan riset, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat di garis depan.
Jika dikaitkan dengan tahapan pengolahan citra digital, ada keselarasan menarik. Tahap praproses ibarat pendidikan inklusif, fondasi awal yang memastikan semua elemen masyarakat mendapat akses pendidikan tanpa diskriminasi. Tahap ekstraksi fitur menggambarkan keberanian pendidikan tinggi menemukan potensi terbaik mahasiswa dan dosen agar adaptif terhadap perubahan global, sembari tetap menjaga nilai kebangsaan. Sementara tahap pengenalan identik dengan capaian nyata perguruan tinggi: menghasilkan lulusan, riset, dan kontribusi sosial yang terukur.
Pendidikan Tinggi, Teknologi, dan Patriotisme
Pertanyaannya, model pendidikan tinggi seperti apa yang harus kita kembangkan di era ini? Jawabannya adalah pendidikan yang menguasai sains dan teknologi sekaligus menanamkan karakter kebangsaan. Mahasiswa perlu dilatih agar adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi tetap berakar pada Pancasila dan budaya nasional.
Kita tidak bisa berharap pengetahuan datang begitu saja dari bangsa lain. Sejarah membuktikan, tidak ada satu negara pun yang dengan sukarela mewariskan penguasaan ilmu dan teknologi kepada bangsa lain. Karena itu, peningkatan kapasitas belajar menjadi mutlak: belajar lebih lama, menghasilkan lebih banyak, dan bekerja lebih baik.
Indonesia membutuhkan lebih banyak sarjana teknologi, peneliti, dan inovator yang bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa patriotisme. Dengan begitu, teknologi termasuk pengolahan citra digital, akan menjadi instrumen untuk memperkuat kedaulatan bangsa, bukan sekadar alat konsumsi yang membuat kita bergantung pada pihak luar.
Pengolahan citra digital hanyalah satu contoh bagaimana teknologi bisa menjadi medium untuk meneguhkan mutu pendidikan tinggi sekaligus memupuk patriotisme. Dengan keberanian berinovasi, mengembangkan riset, serta berpegang pada nilai kebangsaan, pendidikan tinggi Indonesia dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi tantangan global, tetapi juga setia menjaga identitas dan martabat bangsa.
*) Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, S.Kom., M.Kom, Guru Besar Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Reporter