Perempuan Suku Sasak Wajib Bisa Menenun Sebelum Menikah

  • 29 Agustus 2025
  • VaniaS
  • 1194

Desa Sukarara di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang kerap disinggahi wisatawan lokal maupun mancanegara. Desa ini dikenal sebagai sentra kerajinan tenun khas Sasak yang diwariskan secara turun-temurun.


Memasuki kawasan desa, wisatawan disambut deretan rumah tradisional serta aktivitas para perempuan yang tekun duduk di alat tenun. Proses pembuatan kain dapat disaksikan secara langsung, mulai dari memasang benang, membentuk motif, hingga menyelesaikan jahitan.


Wisatawan juga dapat mencoba menenun bersama para inaq, sebutan untuk ibu dalam bahasa Sasak, yang bersedia membimbing. Salah satu inaq yang tengah asyik menenun mengungkapkan bahwa keterampilan ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian penting dari adat istiadat.


“Perempuan di sini harus bisa menenun. Saya belajar sejak umur 10 tahun. Kalau belum bisa menenun, menurut adat, belum boleh menikah,” ujarnya, Kamis (22/8).




Menurut masyarakat setempat, menenun menjadi simbol kematangan seorang perempuan. Keahlian ini dianggap mencerminkan kesabaran, ketelitian. 


Selain belajar menenun, wisatawan dapat mencoba mengenakan pakaian adat Sasak. Untuk perempuan, busana yang dikenakan disebut lambung dan songket, berupa terusan hitam tanpa lengan dengan kerah berbentuk huruf “V” dihiasi kain pelung, dilengkapi selendang bermotif ragi yang disampirkan di bahu kanan, serta ikat pinggang anteng di sisi kiri. Bagian bawahnya berupa kain songket hingga lutut, biasanya dikenakan untuk menyambut tamu.


Sementara itu, untuk laki-laki terdapat busana pegon yang kerap digunakan pada upacara adat atau oleh kalangan bangsawan Sasak. Pengunjung pun bebas berfoto dengan busana ini di depan Rumah Adat Sasak yang berada di area desa.


Tak lengkap rasanya pulang dari Sukarara tanpa membawa buah tangan. Terdapat toko oleh-oleh hasil kain tenun  menawarkan beragam kerajinan tangan masyarakat setempat, mulai dari kain tenun, kain ikat, tas, songkok, hingga sajadah berbahan tenun. Proses pembuatannya memerlukan kesabaran dan ketelitian tinggi, sehingga harga kain bervariasi mulai dari Rp150 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung motif dan kerumitannya.


Lebih dari sekadar destinasi wisata, Desa Sukarara menjadi cerminan hidupnya warisan budaya Sasak yang mempersiapkan perempuan bukan hanya untuk menikah, tetapi juga untuk menjaga identitas dan martabat budaya mereka.


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\