Public Speaking Bukan Sekadar Berani Bicara, tapi Seni Menyampaikan Pesan

  • 02 Oktober 2025
  • 2971

Untag Surabaya melalui Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) menggelar workshop pengembangan soft skill bertema Public Speaking, Selasa (30/9/25). Acara berlangsung di Ruang R. Soeparman Hadipranoto, Gedung Graha Wiyata Lantai 9 Untag Surabaya, dan sukses menarik antusiasme mahasiswa.


Antusiasme peserta terbukti dari membludaknya pendaftar mahasiswa Untag Surabaya yang mencapai 701 orang, meski kuota hanya tersedia untuk 500 peserta. Untuk menjangkau lebih banyak audiens, panitia juga menyiarkan acara ini secara live melalui kanal YouTube BKA Untag Surabaya.


Workshop ini turut dihadiri Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., dan Wakil Rektor I, Harjo Seputro, ST., MT. Dalam sambutannya, Prof. Nugroho berbagi pengalaman pribadi sekaligus menekankan pentingnya public speaking sebagai “magnet” kesuksesan.


“Orang yang public speaking-nya bagus akan menjadi magnet. Dimanapun ia berada, kehadirannya dicari. Saya sendiri merasakan itu sejak kuliah, dan hingga kini saya percaya komunikasi yang baik adalah kunci kesuksesan,” ungkapnya.


Menurutnya, kepintaran akademik tidak akan berarti tanpa kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik. 


“Pintar saja tidak cukup. Kita harus bisa mengkomunikasikan dengan baik. Gunakan workshop ini sebaik-baiknya, jangan malu bertanya, dan serap ilmunya,” pesannya sebelum membuka kegiatan secara resmi.


Kepala BKA Untag Surabaya, Moh. Taufik, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menambahkan bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan keterampilan penting yang akan menunjang karier mahasiswa.


“Workshop ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara, tapi juga membekali mahasiswa dengan teknik presentasi serta melatih mereka menghadapi situasi yang membutuhkan komunikasi efektif. Itulah mengapa acara ini sangat ditunggu-tunggu,” ujar Taufik (30/9)


Hadir sebagai narasumber, Danis Kirana seorang Communication Strategist sekaligus Co-Founder DAKO Brand & Communication, membawakan materi bertajuk “The Art of Public Speaking: From Fear to Confidence on Stage.” Ia mengungkapkan bahwa 77% orang di dunia mengalami glossophobia atau rasa takut berbicara di depan umum.


“Public speaking bukan sekadar keberanian bicara, melainkan kemampuan menyampaikan pesan yang jelas, menarik, dan dipahami audiens. Public speaking adalah kombinasi dari isi (content), cara penyampaian (delivery), dan koneksi dengan audiens (connection),” terangnya


Danis juga membedakan berbagai jenis public speaking, mulai dari informatif, persuasif, inspiratif, hingga hiburan. Ia membagikan sejumlah tips mengatasi rasa grogi, seperti mengatur napas, melakukan power pose, fokus pada pesan, serta membangun persepsi bahwa audiens adalah teman, bukan hakim.


“Public speaking bukan bakat, melainkan keterampilan. Siapa pun bisa melatihnya,” tegasnya.


Manfaat workshop ini turut dirasakan mahasiswa. Chiara Ifani Mukti, mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5, mengaku mendapatkan perspektif baru. 


“Public speaking bukan hanya soal berani bicara, tapi bagaimana pesan kita bisa diterima orang lain. Dari acara ini saya belajar untuk tidak overthinking, tidak takut salah, dan tidak harus perfeksionis, karena justru itu yang bikin blank. Kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa, baik untuk mendukung perkuliahan maupun dunia kerja,” tutupnya


Workshop public speaking ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Untag Surabaya untuk mengasah kemampuan komunikasi, soft skill yang akan menjadi pondasi utama memasuki dunia profesional. (Boby)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\