Rusia Gencar Promosi Aplikasi Max Gantikan Whatsapp dan Telegram

  • 01 April 2026
  • 85

Rusia saat ini mendorong penggunaan Max, aplikasi pesan instan yang diproyeksikan sebagai pengganti WhatsApp dan Telegram. Upaya ini dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari promosi aplikasi pesaing hingga pembatasan terhadap platform yang sudah ada.


Dilansir CNN Indonesia, kehadiran Max langsung memicu kekhawatiran, terutama terkait keamanan data pengguna. Berbeda dengan WhatsApp, aplikasi ini tidak menggunakan sistem enkripsi, sehingga dinilai lebih rentan terhadap pengawasan.


Sejumlah pengamat menilai aplikasi ini berpotensi dimanfaatkan pemerintah untuk memantau aktivitas pengguna. Peneliti keamanan siber sekaligus CEO Predicta Lab, Baptiste Robert, menyebut bahwa setiap data yang melewati aplikasi tersebut pada dasarnya berada di tangan pemiliknya, dalam hal ini negara Rusia.


Aplikasi Max dikembangkan oleh perusahaan teknologi Rusia, VK, dan dijadwalkan rilis pada 2025. Tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi percakapan, Max juga mengintegrasikan berbagai layanan lain, seperti media sosial, identitas digital, akses layanan pemerintah, hingga sistem pembayaran. Konsep ini disebut mirip dengan WeChat yang populer di China.


Meski tidak ada regulasi resmi yang mewajibkan penggunaan Max, pemerintah Rusia dinilai mendorong adopsinya secara tidak langsung. Salah satu langkahnya adalah dengan memasang aplikasi ini secara otomatis pada perangkat baru yang dijual di Rusia sejak September 2025.


Dukungan juga datang dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menyebut Max sebagai platform yang lebih aman dan sesuai dengan kebutuhan Rusia dalam membangun kedaulatan teknologi.


Pandangan serupa disampaikan oleh akademisi dari Universitas Maastricht, Marielle Wijermars. Ia menilai kebijakan ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah Rusia untuk menciptakan internet yang lebih berdaulat. Menurutnya, Rusia ingin memiliki kontrol yang lebih besar terhadap arus informasi di dalam negeri, termasuk dengan mendorong masyarakat beralih ke platform yang lebih mudah diawasi oleh negara.


Secara tampilan, Max dirancang mirip dengan Telegram, lengkap dengan fitur stiker, saluran publik, dan pesan pribadi. Namun, perbedaannya terletak pada statusnya yang tetap dapat diakses meskipun terdapat pembatasan internet di Rusia.


Pada awalnya, aplikasi ini hanya tersedia bagi pengguna di Rusia dan Belarusia. Kini, Max mulai diperluas ke sejumlah negara yang dianggap sebagai mitra Rusia, seperti Kuba dan Pakistan. Sementara itu, pengguna di Uni Eropa dan Ukraina masih belum dapat mengakses layanan ini.


Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya soal kemudahan dan fitur, tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan negara. Dalam konteks ini, Rusia tampak berupaya membangun sistem digital yang lebih mandiri sekaligus memperkuat kontrol terhadap aktivitas daring warganya. (Husni)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

BERITA TERKAIT

Isi Kokpit Mobil F1
  • 20 Maret 2013
  • 10677
8 Fitur Mengaggumkan Windows 8
  • 20 Maret 2013
  • 6777
Komputer Terkecil Di Dunia
  • 20 Maret 2013
  • 10255
\