Tiga siswa SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya masuk dalam jajaran finalis Duta Genre Kota Surabaya 2026. Aprillicia Frisca Dewi dari kelas XII-2 melaju hingga 10 besar, sedangkan Azizah Maheswari S. dan Roberta Johanna T.L.B.S. menjadi bagian dari 83 finalis ajang tersebut.
Duta GenRe Surabaya merupakan ajang pemilihan role model bagi remaja di Kota Surabaya yang bertujuan untuk mengembangkan generasi muda yang berencana, berprestasi, dan bebas dari NAPZA, seks bebas, serta pernikahan dini.
Ketiganya mengikuti ajang tersebut melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) SMATAG dengan mewakili Kecamatan Sukolilo. Dalam prosesnya, Aprillicia Frisca Dewi melaju hingga 10 besar dan berbagi pengalamannya selama mengikuti rangkaian pemilihan tersebut.
Bagi Aprillicia, keikutsertaannya dalam ajang tersebut awalnya hanya untuk mengisi waktu luang sekaligus mencoba hal baru. Ketertarikannya berkembang setelah mengikuti pertemuan pertama Duta Genre dan mengenal berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan remaja.
“Awalnya saya tertarik karena ingin mengisi waktu luang dan mencoba hal baru. Tetapi saat pertemuan pertama, saya jadi tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang isu yang dekat dengan remaja,” ujar Aprillicia (11/9)
Menurutnya, sejumlah persoalan seperti perencanaan masa depan, kesehatan reproduksi, pergaulan, hingga kemampuan remaja dalam mengambil keputusan menjadi hal yang penting untuk dipahami. Pengalaman tersebut membuatnya tidak lagi memandang ajang Duta Genre hanya sebagai kompetisi untuk memperoleh gelar.
Dalam prosesnya, Aprillicia melewati sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi, capacity building pertama dan kedua, tes tulis, wawancara, hingga rangkaian pembinaan menuju grand final. Ia juga sempat mengikuti tahapan Genre Motion, tetapi tidak dapat berpartisipasi karena mengalami kecelakaan yang membuatnya kesulitan berjalan.
Meski melewatkan salah satu tahapan, Aprillicia tetap dinyatakan lolos ke 10 besar. Ia mengaku tidak menyangka dapat melanjutkan ke tahap tersebut.
“Jujur masuk 10 besar ini tidak menyangka karena saya melewatkan satu tes. Tetapi teman-teman saya yang masuk 10 besar mengatakan saya memang pantas karena mungkin penilaian saya cukup tinggi di tes yang lainnya,” tuturnya.
Menurut Aprillicia, pengetahuan mengenai isu remaja menjadi salah satu kemampuan penting yang diuji dalam pemilihan tersebut. Selain itu, peserta juga dituntut memiliki sikap yang baik, kemampuan public speaking, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian terhadap dampak yang diberikan kepada lingkungan maupun ruang digital.
Untuk mempersiapkan diri, Aprillicia mempelajari berbagai isu yang berkaitan dengan remaja, program Genre Kota Surabaya, serta program Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB). Ia juga mempersiapkan kemampuan fashion show yang menjadi salah satu bagian dalam grand final.
Tidak hanya persiapan teknis, Aprillicia juga berusaha mengubah pola pikir selama mengikuti seleksi. Ia memilih menjadikan setiap tahapan sebagai kesempatan belajar daripada hanya berfokus pada kemenangan.
“Saya berusaha mengubah pola pikir bahwa saya mengikuti seleksi ini bukan hanya ingin menang, tetapi belajar dari setiap tahap dan pengalaman teman-teman saat sharing session. Saya juga berusaha menjadi diri sendiri dan tidak terpaku pada jawaban yang menurut saya paling sempurna,” jelasnya.
Tantangan lain yang dirasakan Aprillicia adalah menjaga kepercayaan diri. Rasa gugup dan khawatir terhadap penilaian sempat muncul selama proses seleksi. Ia mengatasinya dengan berusaha fokus pada tahapan yang sedang dijalani tanpa terlalu memikirkan bagaimana dirinya akan dinilai.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Aprillicia justru datang dari pertemuan dengan peserta dan panitia dari berbagai wilayah di Surabaya. Interaksi tersebut membuatnya mendapatkan perspektif baru dari pengalaman peserta lain. Ia juga memperoleh pembelajaran mengenai konseling sebaya, sikap, serta body language selama proses pembinaan.
Setelah masuk 10 besar Duta Genre Kota Surabaya 2026, Aprillicia ingin menjalankan perannya sebagai role model sekaligus teman sebaya yang mampu menyampaikan informasi positif dan relevan bagi remaja. Ia juga ingin terus memberikan edukasi mengenai perencanaan kehidupan remaja, kesehatan reproduksi, bahaya narkotika dan zat adiktif, serta berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja.
“Menurut saya, masa remaja adalah masa yang bagus untuk mempersiapkan masa depan, bukan terburu-buru menentukan seluruh hidup kita. Jangan sampai karena rasa penasaran atau pikiran sesaat untuk melakukan sesuatu membuat masa depan menjadi kelam,” pesannya.
Dukungan dari sekolah turut menjadi bagian dalam perjalanan Aprillicia. SMATAG Surabaya memberikan ruang untuk mengikuti kegiatan dan menjalankan program Duta Genre. Dukungan juga terlihat ketika proses voting berlangsung, dengan sejumlah guru turut membantu memberikan suara sekaligus menyebarluaskan informasi kepada orang-orang di sekitar mereka.
Bagi Aprillicia, pencapaian masuk 10 besar bukanlah akhir, melainkan awal untuk terus belajar dan memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi remaja. Ia berharap pencapaian tersebut dapat membawa nama baik SMATAG sekaligus mendorong siswa lain untuk berani mencoba pengalaman baru.
Ia juga mengajak siswa untuk tidak menunggu sampai merasa benar-benar siap sebelum mencoba sesuatu.
“Kalau menunggu siap, kita sudah keburu lulus duluan. Tetap ikuti prosesnya, berani keluar dari zona nyaman, dan jangan takut dengan kemungkinan gagal karena setiap pengalaman pasti memberikan sesuatu yang baru, baik kemampuan, relasi, maupun pelajaran mengenai diri sendiri,” tutupnya
Keikutsertaan siswa SMATAG Surabaya dalam Duta Genre Kota Surabaya 2026 menjadi bagian dari pengalaman siswa dalam mengembangkan pengetahuan, kemampuan, serta keberanian untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan remaja. (Dini)