Siswi SMATag Surabaya Juara 2 Surat untuk Presiden

  • 12 Agustus 2026
  • 16

Siswi SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, Azaline Naimah Azzahra dari kelas XI IPA 1, berhasil meraih Juara 2 kategori Surat untuk Presiden jenjang SMA dalam ajang Surat Suara Anak Surabaya yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Prestasi tersebut diraih setelah bersaing dengan lebih dari 1.000 karya peserta.


Melalui karyanya, Azaline mengangkat isu kesetaraan hak anak tanpa diskriminasi, termasuk bagi anak penyandang disabilitas. Pada kategori yang sama, Juara 1 diraih SMA Kristen Petra 3, sedangkan Juara 3 diraih SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya.


Di balik pencapaiannya, Azaline mengaku sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia menulis. Keikutsertaannya dalam lomba tersebut berawal dari keinginan untuk mencoba hal baru dan menantang diri keluar dari zona nyaman.


“Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik dengan menulis. Saya hanya suka mencoba hal baru dan menantang diri sendiri. Urusan menang atau kalah itu belakangan. Saya hanya ingin mendapatkan pengalaman baru,” jelas siswi kelas XI tersebut (5/8)


Kesempatan mengikuti kompetisi tersebut bermula dari rekomendasi wali kelasnya saat duduk di kelas sepuluh, Devy Qurrotu Ainy, S.Pd., Gr. Saat itu, Azaline diminta mencoba mengikuti lomba yang memiliki dua kategori, yakni surat untuk Wali Kota Surabaya dan surat untuk Presiden.


Ajang Surat Suara Anak Surabaya tersebut diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya pada 2 Juli 2026. Dari berbagai tema yang tersedia, Azaline memilih mengangkat isu kesetaraan hak anak karena menilai masih banyak anak yang menghadapi keterbatasan dalam memperoleh hak yang sama, terutama anak penyandang disabilitas.


Dalam suratnya, Azaline menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada seluruh anak tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki.


“Semua anak di Indonesia berhak didengarkan tanpa diskriminasi karena merekalah yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Saya juga berharap negara semakin menghargai anak-anak yang berprestasi sehingga mereka merasa dilihat dan diapresiasi," tuturnya.


Untuk memperkuat isi surat, Azaline melakukan riset sederhana melalui berbagai sumber informasi, termasuk media sosial. Ia juga terinspirasi dari pengalaman saat pembelajaran daring pada masa pandemi COVID-19, ketika masih banyak anak mengalami keterbatasan akses perangkat dan jaringan internet.


Proses penyusunan surat berlangsung selama empat hari. Selama proses tersebut, Azaline aktif berdiskusi dan melakukan revisi bersama Bu Devy hingga naskah dinilai siap dikirimkan.


Perjalanan menuju prestasi tersebut tidak sepenuhnya mudah. Di waktu yang sama, Azaline juga tengah mempersiapkan diri mengikuti tes Olimpiade Sains Nasional (OSN), sehingga harus membagi waktu antara persiapan kompetisi dan penyusunan surat.


“Yang paling susah itu buat bagi waktu karena bersamaan dengan persiapan tes OSN. Saya sampai harus mengurangi waktu tidur agar bisa memberikan hasil terbaik di kedua kegiatan itu. Saya merasa sudah dipercaya sekolah, jadi saya harus bertanggung jawab memberikan usaha terbaik,” katanya.


Momen pengumuman pemenang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Azaline. Awalnya, ia hanya mengetahui bahwa karyanya masuk dalam 100 karya terbaik bersama lima delegasi SMATAG Surabaya lainnya. Ia bahkan belum menyadari dirinya lolos enam besar hingga dimasukkan ke dalam grup persiapan acara puncak Hari Anak Nasional di Balai Pemuda Surabaya.


Karena sempat terjadi miskomunikasi, Azaline baru mengetahui dirinya meraih Juara 2 setelah diarahkan untuk melihat pengumuman melalui media sosial.


“Saya benar-benar kaget. Dari awal saya hanya ingin mencoba dan belajar hal baru, tetapi ternyata Allah memberikan keberhasilan yang luar biasa dengan menjadi Juara 2,” katanya


Bagi Azaline, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi anak-anak Indonesia. Ia semakin termotivasi setelah bertemu dengan banyak anak penyandang disabilitas dalam acara puncak kompetisi dan melihat semangat mereka untuk terus belajar.


Pengalaman tersebut membuat Azaline semakin yakin bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk didengar dan memperoleh kesempatan berkembang.


Ke depan, Azaline bertekad terus mengembangkan kemampuan menulis serta mengikuti berbagai kompetisi serupa. Ia juga bercita-cita mengikuti ajang pemilihan duta di Surabaya dengan fokus pada isu perlindungan, pemberdayaan perempuan, dan pemenuhan hak anak.


“Misi saya bukan hanya untuk diri sendiri. Saya ingin menjadi jembatan bagi banyak aspirasi anak-anak Indonesia agar suara mereka benar-benar didengar dan bisa membawa perubahan,” tutupnya


Bagi Azaline, penghargaan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk terus menyuarakan aspirasi anak-anak Indonesia. Ke depan, ia bertekad mengembangkan kemampuan menulis serta mengikuti berbagai kompetisi serupa, sekaligus mewujudkan cita-citanya mengikuti ajang pemilihan duta di Surabaya dengan fokus pada isu perlindungan, pemberdayaan perempuan, dan pemenuhan hak anak. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id