SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya menggelar kegiatan parenting bagi wali siswa kelas 10 di Plaza SMATAG Surabaya, Sabtu (8/8/26). Kegiatan ini menjadi upaya sekolah memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan orang tua sejak siswa mulai memasuki lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SMATAG Surabaya, Drs. M. Ecep Sudrajat, M.M., menjelaskan bahwa parenting merupakan program tahunan yang menjadi forum pertemuan antara sekolah dan orang tua. Bagi wali siswa kelas 10, pertemuan tersebut sekaligus menjadi sarana pengenalan dan membangun komunikasi sejak awal masa pendidikan siswa di SMATAG Surabaya.
“Yang paling penting, seluruh informasi dari sekolah dapat tersampaikan kepada orang tua. Jangan sampai terjadi miskomunikasi dalam perjalanan anak menempuh pendidikan di sini,” katanya (8/8)
Dalam pertemuan tersebut, sekolah menyampaikan berbagai informasi terkait program pendidikan, mulai dari bidang kurikulum, kesiswaan, hingga keuangan.
“Penyampaian secara langsung diperlukan agar orang tua memiliki pemahaman yang sama mengenai proses pendidikan yang dijalani anak selama berada di SMATAG,” imbuh Kepala Sekolah SMATAG Surabaya
Ecep berharap pertemuan tersebut juga dapat membangun hubungan kekeluargaan antara sekolah dan orang tua.
“Saya harap kegiatan ini dapat membangun hubungan kekeluargaan antara sekolah dan orang tua. Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa sehingga komunikasi, kerja sama, dan hubungan yang baik perlu dibangun untuk mendukung pendidikan anak,” imbuhnya.
Selain informasi mengenai sekolah, materi parenting juga membahas peran orang tua dalam mendampingi perkembangan siswa. Dalam kesempatan tersebut, Devy Qurrotu Ainy, S.Pd., Guru Pengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, menyampaikan pentingnya peran orang tua dalam memberikan fasilitas dan arahan bagi anak.
“Bapak dan Ibu tidak hanya meminta dan menuntut, tetapi juga memfasilitasi,” tuturnya (8/8).
Menurut Devy, siswa kelas 10 mulai mempersiapkan peminatan di kelas 11 sekaligus membangun rekam jejak akademik. Persiapan tersebut dilakukan melalui tes minat dan bakat, angket, serta pemantauan rekam jejak akademik siswa.
Persiapan menuju perguruan tinggi, lanjutnya, juga perlu dilakukan sejak awal. Nilai akademik yang diperoleh sejak kelas 10 perlu diperhatikan karena dapat menjadi bagian dari proses seleksi pada jalur penerimaan tertentu. Di samping capaian akademik, siswa juga didorong mengembangkan prestasi nonakademik, seperti olahraga, seni, maupun organisasi.
Sekolah juga membuka ruang komunikasi bagi orang tua apabila menemukan perubahan perilaku atau persoalan yang dialami anak. Kerja sama antara keluarga dan sekolah dinilai penting karena perilaku siswa di rumah dan di sekolah dapat berbeda. Informasi dari kedua pihak dapat membantu sekolah memberikan pendampingan yang lebih tepat. (Dini)