Untag Surabaya kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Yuni Putri Dewantara, S.M., M.M., mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi (DIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), resmi meraih gelar doktor di usia yang masih sangat muda, 25 tahun. Ia dikenal sebagai dosen sekaligus konten kreator yang aktif berkarya di bidang akademik maupun media sosial.
Perjalanan akademiknya terbilang istimewa. Sebelum menempuh S3 di Untag Surabaya, Yuni menyelesaikan pendidikan S1 International Business Management di Universitas Ciputra Surabaya dengan predikat summa cum laude dan IPK 3,94. Ia kemudian melanjutkan ke Magister Manajemen (S2) di kampus yang sama dan kembali lulus summa cum laude dengan IPK 3,92. Setelahnya, ia dipercaya mengajar sebagai dosen di Universitas Ciputra Surabaya, khususnya di bidang manajemen dan bisnis.
Pencapaiannya kian luar biasa karena di saat yang sama, Yuni masih aktif menempuh pendidikan strata satu (S1) Hukum semester 5. Keputusannya mengambil jurusan hukum di tengah perjalanan studi doktoralnya bukan tanpa alasan.
Yuni yang lahir dari keluarga berlatar belakang hukum terbiasa berdiskusi tentang isu-isu hukum sejak kecil. Namun, minatnya pada dunia ekonomi membuatnya memilih jalur manajemen hingga tingkat doktoral.
“Saya percaya bahwa proses pembelajaran tidak harus bersifat linier. Kombinasi antara hukum dan ekonomi justru saya pandang sebagai kekuatan, karena keduanya saling melengkapi dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan kompleks di masyarakat,” jelasnya (30/9)
Puncak perjalanan studinya berlangsung pada Jumat, 26 September 2025. Dalam sidang terbuka Doktor Ilmu Ekonomi (DIE) FEB Untag Surabaya yang digelar di Meeting Room Graha Wiyata Untag Surabaya, Yuni berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Strategi Green Marketing Mix dalam Meningkatkan Green Purchase Decision dengan Mediasi Green Perceived Value dan Moderasi Environmental Knowledge pada UMKM Ecoprint di Gerbangkertosusila.” Penelitiannya memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan strategi pemasaran berkelanjutan, khususnya bagi UMKM berbasis ramah lingkungan.
Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga inspirasi bagi mahasiswa lain di Indonesia. Menyelesaikan S3 di usia muda sambil mengajar, menempuh studi hukum, dan tetap aktif berkarya di media sosial, menunjukkan kemampuannya mengelola waktu dan energi dengan baik.
“Ada hari-hari di mana saya benar-benar kehabisan energi. Tapi saya belajar bikin skala prioritas, belajar bilang ‘tidak’ ke hal-hal yang nggak urgent, dan memberi ruang untuk diri sendiri,” ungkapnya
Selain berkarier di dunia akademik, Yuni juga dikenal sebagai konten kreator. Ia aktif membagikan konten di bidang lifestyle, kuliner (foodies), dan kecantikan (beauty), serta sering mendapat endorsement. Aktivitas ini membawanya lebih dekat dengan generasi muda, sekaligus menjembatani dunia akademik dengan masyarakat luas melalui pesan-pesan kreatif yang positif dan inspiratif.
“Waktu yang tepat itu bukan ditunggu, tapi diciptakan. Kalau sudah ada niat dan rencana, jalani saja selangkah demi selangkah dengan fokus pada kemungkinan yang ada, bukan pada kesulitannya,” tegas Yuni
Ia juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia memberi dukungan lebih kepada mahasiswa berbakat. Menurutnya, akses dan kepercayaan adalah faktor utama yang harus diperhatikan.
“Mahasiswa berbakat itu banyak, tapi kadang kurang kesempatan. Kampus bisa bantu dengan program akselerasi, pembimbing suportif, beasiswa, dan ruang eksplorasi minat sejak awal,” tutupnya
Yuni menegaskan bahwa pencapaian terbesar bukan terletak pada gelar atau pengakuan, melainkan pada kemampuan untuk bertahan saat segala sesuatu terasa berat. Ia mengajak generasi muda untuk menghargai setiap proses, sekecil apa pun langkahnya, dan tidak meremehkan diri hanya karena menempuh jalan yang berbeda atau lebih lambat dari orang lain. (Boby)