Dompet Digital & Belanja Mahasiswa: Bahaya sikap Impulsif?

  • 17 Oktober 2025
  • 2956

Dompet digital memudahkan transaksi mahasiswa dan Gen-Z, tapi juga menyuburkan belanja impulsif. Promo harian, gamifikasi, dan “bayar nanti” membuat gesekan belanja menurun; keputusan jadi cepat, terasa menyenangkan, dan sering tak melalui pertimbangan kebutuhan.




Fenomena cashless effect membuat banyak pengguna membeli bukan karena perlu, melainkan karena “sayang kelewatan” promo. Notifikasi, koin, cashback, hingga spin mendorong klik spontan—reward kecil yang berulang membentuk kebiasaan konsumsi tanpa sadar.




Dampaknya kerap tak terasa di awal karena nilainya kecil dan terpencar: ongkir, kopi, langganan aplikasi, top-up transport, hingga cicilan pay later. Akumulasi mikro-transaksi ini menggerus anggaran, memicu stres finansial, dan biaya layanan saat telat bayar.




Risiko lain adalah keamanan: saldo besar di banyak aplikasi, tautan akun, dan kebiasaan klik cepat membuka celah penipuan serta kebocoran data. Pengguna perlu cermat pada izin aplikasi, keamanan perangkat, dan verifikasi dua langkah.




Solusinya bukan anti dompet digital, melainkan pakai cerdas: pisahkan “amplop digital” kebutuhan vs keinginan, batasi top-up hiburan mingguan, matikan pay later untuk non-esensial, aktifkan ringkasan pengeluaran, terapkan jeda 10 menit/24 jam, nonaktifkan notifikasi promo tak relevan, dan rutin audit langganan. Kampus bisa menambah literasi finansial lewat lokakarya budgeting dan simulasi risiko pay later. (Gisela)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\