Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan moral generasi muda, perguruan tinggi dituntut tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga tangguh dalam karakter kebangsaan. Sebagai kampus nasionalis, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengambil langkah nyata dengan mewajibkan Mata Kuliah Patriotisme bagi seluruh mahasiswa baru sebagai bagian dari penguatan Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU).
Kebijakan ini sejalan dengan pandangan Dr. Sunu Priyawan, M.S.Ak., dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya, yang menilai bahwa MKWU memiliki peran strategis dalam membentuk mahasiswa berjiwa kebangsaan di era Kampus Merdeka.
“Kepentingan bangsa harus diletakkan di atas segalanya. Tanpa karakter kebangsaan, pembangunan kita akan kehilangan arah dan orientasi moral,” ujarnya (20/10).
Menurut Dr. Sunu, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk manusia Indonesia yang berkarakter. Ia menjelaskan tiga peran penting kampus dalam proses tersebut, yakni sebagai pembangun karakter (character builder), pemberdaya karakter (character enabler), dan perekayasa karakter (character engineer).
“Institusi pendidikan tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan nasionalisme,” imbuhnya.
Ia menegaskan, penguatan MKWU menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai kebangsaan sejak tahun pertama perkuliahan. Mata kuliah seperti Pendidikan Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Patriotisme menjadi fondasi utama pembentukan karakter mahasiswa.
“MKWU bukan sekadar mata kuliah wajib, tetapi wahana pembentukan kesadaran moral dan kebangsaan. Melalui MKWU, mahasiswa belajar hidup dalam semangat kebersamaan, saling menghargai, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa,” jelas Dr. Sunu.
Visi Untag Surabaya, Terwujudnya Universitas Unggul Berkarakter Bangsa, mencerminkan sinergi antara keunggulan intelektual dan moralitas.
“Kami tidak ingin menghasilkan lulusan yang hanya cerdas tanpa hati nurani, atau berkarakter tanpa kompetensi. Keduanya harus seimbang agar lahir intelektual patriotik yang siap mengabdi bagi bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dr. Sunu menilai penerapan model pembelajaran holistik menjadi strategi efektif dalam pendidikan karakter. Dalam model ini, dosen berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing dan teladan bagi mahasiswa.
“Pendidikan karakter bukan sekadar teori. Dosen harus menjiwai nilai kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab dalam setiap proses pembelajaran. Hanya dengan begitu mahasiswa dapat belajar dengan hati,” ungkapnya.
Melalui langkah tersebut, Untag Surabaya diharapkan mampu mencetak profil lulusan yang selaras dengan nilai perjuangan para pendiri bangsa, intelektual patriotik berjiwa Pancasila, berwawasan kebangsaan, berpengetahuan integratif, dan berjiwa transformatif.
“Dengan penguatan MKWU, kami ingin memastikan setiap lulusan Untag Surabaya tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kokoh. Mereka adalah generasi penerus yang membawa semangat merah putih ke masa depan,” tutup Dr. Sunu.
Reporter