Prof. Puruhito: Teknologi Harus Seimbang dengan Pelestarian Tradisi

  • 19 Februari 2026
  • 78

Prof. Dr. med. Puruhito, dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, hadir dalam Wisuda ke-132 Untag Surabaya untuk menyampaikan orasi ilmiah. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian tradisi dan budaya lokal, agar generasi muda dapat berkontribusi secara global, sambil mengingatkan bahwa penyebaran teknologi yang cepat berpotensi mengikis nilai-nilai lokal jika tidak dijaga.


Dalam orasinya, Prof. Puruhito menyoroti era transformasi Society 5.0, di mana kemajuan teknologi, komunikasi, dan inovasi berkembang pesat. Menurutnya, kemajuan ini membawa peluang besar, tetapi juga tantangan serius bagi pelestarian budaya dan tradisi.


“Masa depan yang harmonis terletak pada simbiosis teknologi dan tradisi. Kita boleh maju secara teknologi, tetapi tidak boleh meninggalkan tradisi yang menjadi akar lokal,” tegasnya (14/2)


Prof. Puruhito menjelaskan bahwa akar lokal mencakup pengetahuan, nilai, dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut memiliki peran penting dalam pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ia mencontohkan capaian Kota Surabaya, seperti penghargaan Indonesia’s SDGs Action Award 2024, peningkatan indeks pembangunan manusia, serta berbagai program lingkungan dan pelayanan publik.


Beberapa kontribusi lokal yang berdampak global yang ia sebutkan antara lain:

• Program Kampung Iklim berbasis masyarakat

• Sistem pelayanan publik Surabaya Single Window (SSW)

• Transportasi berkelanjutan seperti Surabaya Bus dan jalur sepeda

• Pengelolaan sampah terpadu berbasis bank sampah

• Penataan ruang terbuka hijau dan taman kota

• Pemberdayaan UMKM melalui program inovatif


Prof. Puruhito menekankan pentingnya integrasi tradisi lokal dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana akademik, tetapi juga untuk melestarikan nilai budaya sekaligus membentuk generasi yang peduli lingkungan dan masyarakat.


“Kurikulum pendidikan harus menggabungkan pengetahuan modern dengan nilai-nilai lokal agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat. Pendidikan berbasis akar lokal akan membantu mahasiswa memahami budaya, peduli lingkungan, dan memperkuat identitas mereka,” jelasnya.


Ia juga memberi pesan khusus bagi dunia pendidikan kedokteran agar mengintegrasikan nilai budaya dan kearifan lokal dalam proses pembelajaran, sehingga lulusan tidak hanya kompeten secara ilmiah tetapi juga memahami konteks sosial masyarakat.


Hubungan antara tradisi lokal, pendidikan, dan keberlanjutan menjadi kunci menghadapi masa depan. Integrasi ketiganya diyakini mampu menciptakan masyarakat yang menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan nilai sosial budaya.


Prof. Puruhito berharap para lulusan Untag Surabaya dapat menjadi generasi yang tidak melupakan tradisi dan budaya mereka, sekaligus mampu berkontribusi di tingkat global melalui inovasi dan kolaborasi. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\