Penggunaan sound system berdaya tinggi, yang populer disebut sound horeg kian sering dijumpai dalam berbagai acara seperti pesta pernikahan, konser jalanan, hingga karnaval keliling. Meski menciptakan suasana meriah dan mampu menarik perhatian, kebiasaan ini menyimpan bahaya serius bagi kesehatan, khususnya fungsi pendengaran.
Mengutip CNN Indonesia, manusia umumnya dapat mendengar suara dengan frekuensi antara 20 Hz hingga 20 ribu Hz, yang disebut sebagai rentang audio. Suara di luar rentang ini tidak terdengar oleh telinga manusia, meski bisa dirasakan oleh tubuh atau hewan sebagai getaran.
Tingkat kebisingan yang melebihi 85 desibel (dB) selama lebih dari delapan jam sudah tergolong berisiko. Dalam praktiknya, sound horeg bisa mencapai tingkat kebisingan hingga 120 Db, jauh di atas ambang aman untuk pendengaran. Paparan suara bising ini tidak langsung merusak, melainkan terjadi secara perlahan, akumulatif, dan bersifat permanen. Individu yang sering terpapar berisiko mengalami gangguan pendengaran kronis.
Lebih dari sekadar masalah pendengaran, paparan sound horeg juga berdampak pada berbagai aspek kesehatan fisik dan psikologis, antara lain:
1. Gangguan tidur
Suara keras yang berlangsung hingga malam hari dapat mengganggu siklus tidur alami. Jika terjadi berulang, hal ini bisa menyebabkan kelelahan kronis dan menurunnya daya tahan tubuh.
2. Stres dan kecemasan
Lingkungan yang terlalu bising dapat memicu produksi hormon stres. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan kecemasan, mudah tersinggung, hingga gangguan suasana hati.
3. Peningkatan tekanan darah
Paparan suara keras memicu respons “fight or flight” yang menyebabkan denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Bila terjadi terus-menerus, risiko hipertensi pun meningkat.
4. Penurunan konsentrasi dan performa belajar
Anak-anak atau pelajar yang tinggal di dekat sumber kebisingan sering kali kesulitan fokus, mudah lelah, dan mengalami penurunan prestasi akademik.
5. Gangguan sosial
Kebisingan berlebih kerap menimbulkan ketegangan antarwarga, terutama di lingkungan padat penduduk. Banyak warga merasa terganggu saat beristirahat atau kesulitan berkomunikasi.
Tanpa pengendalian, dampak sound horeg bisa menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih luas. Kehilangan pendengaran di usia muda membawa konsekuensi serius terhadap interaksi sosial, pendidikan, dan dunia kerja. Belum lagi, biaya pengobatan dan rehabilitasi pendengaran yang tidak murah, termasuk keharusan memakai alat bantu dengar seumur hidup. (Dini)